• Doktrin & Konsep
  • Prinsip

Konsentrasi Tembakan

Juga dikenal: concentration of fire (Inggris) · massed fires (Inggris)

Memusatkan efek tembakan pada sasaran dan waktu yang menentukan, dengan pengamatan serta koordinasi agar keunggulan senjata menjadi hasil nyata.

Lembar Data

KategoriPrinsip
Istilah asingconcentration of fire (Inggris) · massed fires (Inggris)
DomainDarat, Laut
Era penggunaanEra mesiu hingga peperangan modern; cara pelaksanaannya berubah bersama teknologi
CounterPerlindungan dan penyebaran sasaran; Perpindahan posisi yang menyulitkan pengamatan; Pemutusan hubungan pengamat dan penembak; Cadangan untuk memulihkan pertahanan
Terlihat di6 lembar pertempuran

Apa arti label-label ini? →

Daftar isi

Apa itu

Konsentrasi tembakan adalah memusatkan efek senjata pada sasaran tertentu dalam rentang waktu yang menentukan. Tujuannya bisa menghancurkan sasaran, tetapi bisa pula membuat lawan untuk sementara tidak mampu menembak, bergerak, atau memimpin. Ukuran keberhasilannya ialah perubahan yang terjadi pada kemampuan lawan, bukan sekadar banyaknya peluru yang dilepas.

Konsentrasi pasukan dan konsentrasi tembakan berhubungan, tetapi berbeda. Pasukan berkumpul secara fisik; tembakan dapat datang dari kedudukan yang berjauhan menuju sasaran yang sama. Tembakan serentak atau salvo pun belum tentu merupakan konsentrasi: kesamaan waktu tidak berarti kesamaan sasaran dan tujuan.

Dalam A Treatise on the Tactical Use of the Three Arms (1865), Francis J. Lippitt sudah menekankan bahwa tembakan artileri yang tersebar tanpa tujuan tidak akan menghasilkan sesuatu yang berarti. Bagian “Artillery”, V.A, mengarahkan tembakan pada objek tertentu sampai efek yang diinginkan tercapai. Itu adalah rumusan klasik prinsipnya, bukan bukti bahwa Lippitt menciptakannya.

Perubahan besar berikutnya menyangkut cara menyatukan tembakan tanpa mengumpulkan seluruh meriam. Jonathan House menerangkan perkembangan pusat pengendalian tembakan Amerika dalam bab III, hlm. 75–76: pengamat, radio, survei posisi, dan prosedur perhitungan memungkinkan beberapa satuan artileri menangani sasaran yang hanya terlihat oleh satu pengamat. Konsentrasi menjadi kemampuan organisasi, bukan semata susunan senjata di medan.

Cara kerjanya

Ada empat hubungan yang harus tersambung. Pembagian berikut merupakan kerangka penjelasan, bukan urutan baku untuk semua zaman.

  1. Sasaran dan tujuan. Komandan perlu menentukan bagian pertahanan mana yang benar-benar menghalangi rencana. Lippitt membedakan tembakan terhadap pasukan dengan duel melawan meriam; membalas setiap meriam lawan dapat mengalihkan perhatian dari tujuan utama. Pilihan itu bergantung pada keadaan, bukan larangan mutlak terhadap tembakan balasan.
  2. Pengamatan dan pengendalian. Orang yang melihat sasaran harus dapat menyampaikan informasi yang dipahami satuan penembak. Dalam uraian House, komunikasi saja tidak cukup: letak masing-masing baterai dan penyesuaian tembakannya juga harus dapat dipertemukan dalam acuan yang sama.
  3. Efek yang terpusat. Beberapa satuan memberikan tekanan pada bagian lawan yang dipilih. Di laut, posisi dan gerak kapal ikut menentukan senjata mana yang dapat menembak. Di darat, tembakan tidak langsung memungkinkan meriam menembaki sasaran di luar pandangan langsung awaknya.
  4. Tindak lanjut yang tepat waktu. Kesempatan yang diciptakan tembakan dapat hilang. House menunjukkan masalah rentetan tembakan bergerak dalam Perang Dunia I: ketika tembakan maju lebih cepat daripada infanteri, pembela sempat keluar dari perlindungan dan kembali menembak. Dukungan yang kuat kehilangan manfaat karena waktunya tidak lagi sesuai (bab II, hlm. 21–22).

Konsentrasi karenanya tidak identik dengan menembaki satu tempat selama mungkin. Lawan yang sudah berlindung, sasaran yang berpindah, dan pasukan sendiri yang mendekat dapat mengubah kebutuhan. Hubungannya dengan perang gabungan ada di sini: tembakan membuka kesempatan, unsur lain harus mampu memakainya.

Kenapa sulit — dan kapan menjadi pemborosan

Informasi dapat tertinggal dari pertempuran. House menggambarkan sulitnya menghubungkan infanteri yang maju dengan artileri melalui jaringan telepon medan. Bila laporan terlambat, komandan dapat terus menembaki tempat yang sudah tidak menentukan atau menghalangi gerak pasukannya sendiri. Lebih banyak senjata tidak memperbaiki informasi yang keliru.

Medan mengubah hasil tembakan. Lippitt menjelaskan bahwa tanah lunak mengurangi pantulan peluru meriam dan dapat membuat proyektil meledak dengan efek lebih kecil. Posisi yang terlalu tinggi juga menyisakan tanah dekat yang tidak dapat dijangkau laras. Uraiannya berlaku pada persenjataan zamannya; pelajaran umumnya ialah bahwa jumlah meriam tidak dapat dipisahkan dari kondisi pemakaiannya.

Penekanan sementara berbeda dari penghancuran. House mencatat bahwa peluru shrapnel, yang menyebarkan peluru-peluru kecil, dapat memaksa pembela berlindung namun tidak banyak merusak posisi yang dipersiapkan dengan baik. Menganggap lawan sudah musnah ketika ia hanya menunduk merupakan kesalahan penilaian yang mahal.

Satu sasaran menyerap sumber daya yang terbatas. Lippitt mengingatkan agar amunisi tidak dihamburkan. Sebagai konsekuensi analitis, pemusatan tembakan selalu memerlukan pilihan: sasaran yang memperoleh prioritas mengurangi dukungan yang tersedia di tempat lain. Konsentrasi berguna ketika pilihan itu tepat, bukan karena pemusatan selalu lebih baik daripada pembagian tembakan.

Terlihat di pertempuran ini

  • Tsushima 1905 — contoh keberhasilan pemusatan tembakan terhadap bagian depan armada. Dalam analisis sezamannya, A. T. Mahan menghubungkan kecepatan kapal Jepang dengan kemampuan mempertahankan tembakan pada kapal-kapal terdepan Rusia. Kesaksian Vladimir Semenoff dari kapal komando Suvoroff memperlihatkan akibatnya dari pihak yang menerima tembakan: sarana isyarat rusak, kebakaran meluas, dan kapal yang keluar dari barisan tetap menjadi sasaran. Bagi Jepang, posisi yang menguntungkan membantu memusatkan tekanan; bagi Rusia, kerusakan mengikis kemampuan untuk mengatur tanggapan. Keunggulan ini perlu dibaca bersama pengamatan, pengendalian kapal, dan ketahanan awak, bukan sebagai kemenangan jumlah meriam saja. Rujukan: Mahan, bab XIV; Semenoff, bab III–IV.
  • Waterloo 1815 — contoh batas manfaatnya. Entri pertempuran ini memperlihatkan pemakaian baterai besar Prancis, tetapi juga perlindungan medan dan serangan yang tidak cukup terpadu. Lippitt membahas pengaruh tanah basah terhadap artileri di Waterloo serta risiko menembak melewati pasukan sendiri. Pelajaran yang dapat ditarik ialah bahwa pemusatan meriam tidak dengan sendirinya menjamin efek maupun keberhasilan serangan berikutnya. Rujukan: “Artillery”, I.2 dan I.7. Pendapat Lippitt bahwa serangan lebih awal pasti akan mengalahkan Wellington sebelum kedatangan Prusia adalah penilaian kontrafaktual penulis, bukan hasil sejarah yang dapat dipastikan.

Cara mengalahkannya

Penangkal berikut merupakan sintesis dari kendala yang dibahas Lippitt dan House. Tidak ada satu cara yang menjamin keselamatan terhadap semua jenis senjata.

  • Gunakan perlindungan dan penyebaran. Mengurangi bagian pasukan yang terlihat atau terkumpul pada satu sasaran dapat membatasi efek tembakan. Namun penyebaran yang berlebihan juga menyulitkan saling bantu; perlindungan perlu disertai hubungan antarsatuan yang tetap bekerja.
  • Persulit pengamatan dan pertahankan kemampuan berpindah. Konsentrasi membutuhkan sasaran yang dapat dikenali dan diikuti. Lippitt membahas penyamaran kedudukan serta perpindahan baterai, sekaligus mengingatkan bahwa meriam rentan saat bergerak. Mobilitas mempunyai biaya dan waktu yang tepat.
  • Ganggu hubungan pengamat, komando, dan penembak. House menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan tembakan terpadu pada komunikasi. Sintesisnya: merusak hubungan tersebut dapat mengurangi kemampuan beberapa satuan bekerja bersama, meskipun senjatanya masih utuh.
  • Pulihkan pertahanan sebelum lawan memanfaatkan hasil. Pada Neuve Chapelle, menurut House, keberhasilan tembakan persiapan tidak segera diikuti gerak maju; penundaan memberi pihak Jerman kesempatan membawa cadangan dan membentuk pertahanan lagi (bab II, hlm. 22). Bertahan mencakup kemampuan pulih, bukan hanya kemampuan menahan pukulan pertama.

Pelajaran untuk medan kehidupan

Analogi yang berguna ialah memusatkan pekerjaan pada hambatan, bukan tekanan pada orang. Bila sebuah proyek tersendat oleh keputusan yang belum jelas, menambah banyak tugas tidak menyelesaikannya. Tentukan hambatan, satukan informasi yang diperlukan, lalu ukur apakah keputusan menjadi lebih mudah dan pekerjaan berikutnya benar-benar dapat berjalan.

Koordinasi juga tidak selalu menuntut semua orang berada di satu ruangan atau mengerjakan hal yang sama. Tim yang berbeda dapat menyumbang pada satu hasil, asalkan memakai acuan yang sama dan mengetahui kapan kontribusinya dibutuhkan. Sisakan tenaga untuk tindak lanjut: menyelesaikan satu hambatan tidak berguna bila tim berikutnya belum siap menerima hasilnya.

Sumber & bacaan lanjutan

  • Francis J. Lippitt, A Treatise on the Tactical Use of the Three Arms: Infantry, Artillery, and Cavalry (D. Van Nostrand, 1865), bagian “Artillery”, terutama I, III–VI — teks penuh, Project Gutenberg. Primer/klasik; akses terbuka. Risalah taktik abad ke-19 tentang pemusatan tembakan, medan, sasaran dan amunisi; penilaian sejarahnya perlu dibaca kritis.
  • Jonathan M. House, Toward Combined Arms Warfare: A Survey of 20th-Century Tactics, Doctrine, and Organization (Combat Studies Institute, Research Survey No. 2, Agustus 1984), bab II, hlm. 21–22 dan 34–35; bab III, hlm. 75–76 — PDF, GovInfo. Akademik; akses terbuka. Kajian sejarah militer mengenai hubungan tembakan, manuver, komunikasi, dan perkembangan pengendalian artileri.
  • A. T. Mahan, “The End of Russia’s Sea Power”, bab XIV dalam James H. Hare (ed.), A Photographic Record of the Russo-Japanese War (P. F. Collier & Son, 1905), mulai hlm. 251 — teks penuh, Project Gutenberg. Primer/klasik pemikiran laut; akses terbuka. Analisis awal Tsushima oleh teoritikus angkatan laut; bukan kesaksian langsung dari kapal yang bertempur.
  • Vladimir Semenoff (V. I. Semenov), The Battle of Tsu-shima: Between the Japanese and Russian Fleets, Fought on 27th May 1905, terj. A. B. Lindsay (E. P. Dutton & Company, 1913; edisi Inggris pertama 1906), bab III–IV — teks penuh, Project Gutenberg. Primer; akses terbuka. Kesaksian perwira Rusia di Suvoroff; bernilai untuk dampak tembakan dan kerusakan komando, dengan sudut pandang terbatas.

Jelajahi lembar-lembarnya