• Doktrin & Konsep
  • Konsep operasional

Perang Psikologis

Juga dikenal: psychological warfare (Inggris) · military propaganda — propaganda militer (Inggris)

Upaya terencana memengaruhi penilaian dan pilihan lawan lewat pesan serta tindakan pendukung, dengan batas penting antara pengaruh yang disengaja dan kepanikan akibat pertempuran.

Lembar Data

KategoriKonsep operasional
Istilah asingpsychological warfare (Inggris) · military propaganda — propaganda militer (Inggris)
DomainCampuran
Era penggunaanPraktik lintas zaman; perumusan kelembagaan modern pada abad ke-20
CounterKomunikasi komando yang dapat dipercaya; Pemeriksaan silang kabar dan perintah; Latihan menghadapi kejutan; Tindakan yang konsisten dengan janji
Terlihat di5 lembar pertempuran

Apa arti label-label ini? →

Daftar isi

Apa itu

Perang psikologis berusaha mengubah apa yang lawan anggap mungkin, berbahaya, atau layak diperjuangkan, agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan pihak pengirim pesan. Sasaran akhirnya berupa tindakan: menyerah, menunda serangan, meninggalkan sekutu, atau kehilangan kepercayaan kepada komandannya.

Dalam Psychological Warfare, edisi kedua (1954), Paul M. A. Linebarger merumuskan pengertian yang bertumpu pada propaganda terhadap musuh, disertai langkah militer, ekonomi, atau politik yang mendukungnya. Ia juga membedakan pengertian itu dari strategi perang yang seluruhnya dirancang berdasarkan pertimbangan psikologis. Jadi, istilah ini mempunyai beberapa cakupan; definisi harus dinyatakan sebelum contoh dinilai (bab III).

Di halaman ini, istilah tersebut dipakai untuk pengaruh yang disengaja terhadap penilaian lawan. Ketakutan akibat tembakan saja belum membuktikan adanya operasi psikologis. Sebaliknya, ancaman yang sengaja disampaikan untuk memperoleh penyerahan memiliki sasaran perilaku yang jelas. Tipu daya beririsan dengannya, tetapi mengarahkan keyakinan lawan tidak selalu membutuhkan kebohongan.

Cara kerjanya

Untuk membaca suatu kasus, ajukan empat pertanyaan berikut. Ini kerangka analisis, bukan resep yang menjamin keberhasilan.

  1. Siapa yang harus berubah pikiran? Panglima, prajurit, dan penduduk bukan penerima pesan yang sama. Kepentingan mereka bisa berbeda bahkan ketika berada di pihak yang sama.
  2. Keputusan apa yang hendak diubah? Bedakan membuat orang takut dengan membuat mereka menyerah. Yang pertama adalah keadaan emosi; yang kedua memerlukan pilihan tindakan yang dianggap mungkin.
  3. Apa yang membuat pesan dipercaya? Periksa siapa pembawanya, apa yang sudah diketahui penerima, dan apakah tindakan pengirim sesuai dengan pesannya.
  4. Apa bukti bahwa keputusan berubah karena pesan itu? Urutan waktu saja belum cukup: sebuah seruan menyerah dapat mendahului penyerahan yang sebenarnya disebabkan kehabisan persediaan.

Gagasan menyerang penilaian lawan mendahului organisasi propaganda modern. Sun Tzŭ on the Art of War, bab I §22 dan VIII §12 dalam terjemahan Lionel Giles, membahas pemanfaatan sifat pemarah seorang pemimpin untuk memancingnya. Yang hendak digeser ialah keputusan sang pemimpin: dari perhitungan keuntungan menuju reaksi karena tersinggung. Itu memperlihatkan logika pengaruh psikologis, tanpa berarti Sunzi memakai kategori kelembagaan abad ke-20.

Kenapa sulit: pesan bukan kendali atas pikiran

Linebarger mengingatkan bahwa pengelola propaganda berkepentingan membesarkan keberhasilan pekerjaannya; pengaruh pesan harus dinilai bersama operasi militer, bukan dari laporan promosi pembuatnya saja (bab III). Dalam pembahasan kontrapropaganda, ia menekankan pentingnya bukti perlakuan baik terhadap tawanan ketika lawan menakut-nakuti pasukannya mengenai nasib setelah menyerah (bab IV).

Ada pula paradoks tekanan. Sunzi, bab VII §36, memperingatkan agar musuh yang terpojok tidak ditekan sampai batas terakhir. Komentar Du Mu yang disertakan Giles menghubungkannya dengan harapan akan jalan selamat: hilangnya harapan dapat mendorong perlawanan putus asa. Karena itu, meningkatkan rasa takut tidak otomatis meningkatkan kemauan menyerah.

Secara editorial, dua batas perlu dijaga. Jangan menyebut setiap kekalahan sebagai kemenangan propaganda; tentukan mekanisme dan buktinya. Jangan pula mengubah penjelasan efektivitas menjadi pembenaran moral. Membuat lawan kehilangan orientasi dan membantai orang dalam kekacauan tetap merupakan dua hal yang harus dinilai masing-masing.

Terlihat di pertempuran ini

  • Cajamarca 1532 — contoh penggunaan guncangan psikologis sebagai bagian dari penyergapan. Dalam History of the Conquest of Peru, buku III bab V, William H. Prescott menguraikan pasukan Spanyol yang disembunyikan, isyarat tembakan, serbuan serentak, dan penangkapan Atahualpa. Ia juga menyebut lonceng pada perlengkapan kuda yang dimaksudkan untuk menambah ketakutan. Di sini unsur pengaruh yang disengaja dapat ditunjukkan, tetapi hasilnya tidak dapat dipisahkan dari kekerasan fisik dan penangkapan penguasa. Prescott menulis jauh sesudah kejadian dengan bertumpu pada kesaksian penaklukan; gambaran batin pihak Inka harus dibaca dengan jarak kritis.
  • Sungai Fei 383 — pembanding untuk menguji batas penjelasan. Entri perang ini membahas kohesi dan kepanikan. Catatan Giles pada bab III §18 mengisahkan kesombongan Fu Jian sebelum pasukannya dikalahkan di Sungai Fei. Catatan tersebut mendukung pembahasan salah menilai lawan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kekalahan merupakan hasil operasi psikologis terencana. Kerapuhan penerima dan kesengajaan pengirim adalah dua pertanyaan berbeda.

Cara mengalahkannya

Berikut penangkal sebagai sintesis dari masalah penilaian, kepercayaan, dan reaksi emosional di atas; penerapannya bergantung keadaan.

  • Pastikan asal perintah. Kabar bahwa suatu sayap sudah kalah perlu diperiksa melalui jalur komando sebelum dijadikan dasar meninggalkan posisi.
  • Sampaikan kenyataan yang bisa diuji. Laporan keadaan yang jujur memberi pegangan untuk menilai rumor; janji kosong justru menyulitkan komandan ketika kenyataan membantahnya.
  • Latih respons terhadap gangguan. Tetapkan siapa yang mengambil alih dan bagaimana satuan berkumpul kembali apabila komunikasi putus. Tujuannya memberi pilihan tindakan saat orang tidak memiliki gambaran lengkap.
  • Jangan biarkan penghinaan menentukan waktu bertindak. Peringatan Sunzi mengenai pemimpin pemarah berguna sebagai pemeriksaan keputusan: apakah tindakan ini memenuhi tujuan, atau hanya memuaskan dorongan membalas?

Pelajaran untuk medan kehidupan

Analogi berikut menyangkut mutu keputusan, bukan anjuran memperlakukan rekan sebagai musuh.

Pisahkan informasi dari tekanan untuk segera bereaksi. Ketika menerima kabar buruk tentang proyek, tulis apa yang diketahui, apa yang masih dugaan, dan siapa yang dapat memastikan. Jangan mengubah rumor menjadi keputusan bersama hanya karena disampaikan dengan yakin.

Bangun kepercayaan sebelum krisis. Dalam tim, akui kesalahan dan jelaskan perubahan rencana. Rekam jejak tersebut memberi alasan bagi orang lain untuk mendengarkan saat keadaan sulit.

Sediakan jalan memperbaiki keputusan tanpa mempermalukan orang. Jika setiap koreksi terasa seperti menyerah di hadapan publik, orang dapat mempertahankan pilihan yang sudah tidak masuk akal. Tujuan diskusi adalah memperbaiki hasil, bukan memaksa pengakuan kalah.

Sumber & bacaan lanjutan

  • Paul M. A. Linebarger, Psychological Warfare, edisi kedua (1954). Duell, Sloan and Pearce. Teks lengkap di Project Gutenberg. [Primer — akses terbuka] Karya klasik pemikiran dan praktik perang psikologis modern; terutama bab III–IV, hlm. 37–61. Perspektif praktisi Amerika pada masa Perang Dingin, bukan ukuran netral keberhasilan setiap operasi.
  • Sunzi, Sun Tzŭ on the Art of War, terjemahan dan catatan Lionel Giles (1910). Luzac & Co. Teks lengkap di Project Gutenberg. [Primer — akses terbuka] Tahun merujuk edisi terjemahan. Bab I §22, III §18 beserta catatan, VII §36, dan VIII §12; pisahkan teks Sunzi dari contoh sejarah serta penafsiran komentator yang disertakan penerjemah.
  • William H. Prescott, History of the Conquest of Peru: With a Preliminary View of the Civilization of the Incas (1847). Teks lengkap di Project Gutenberg. [Akademik — akses terbuka] Historiografi klasik abad ke-19, terutama buku III bab V. Bukan kesaksian langsung; narasi dan bahasa penilaiannya mencerminkan masa penulisan serta ketergantungannya pada sumber penaklukan.

Jelajahi lembar-lembarnya