← Semua kabar

8 Juli 2026

Arkeolog kembali ke rumah Göring di Wolfsschanze untuk memecahkan teka-teki enam kerangka

Tim Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia menggali ulang rumah Hermann Göring di kompleks markas Hitler untuk menyelidiki enam kerangka tanpa tangan dan kaki yang ditemukan pada 2024.

  • Arkeologi
  • Perang dunia ii
  • Forensik

Arkeolog Polandia kembali membuka tanah di bawah rumah Hermann Göring — panglima Luftwaffe — di kawasan Wolfsschanze (Wilczy Szaniec, “Sarang Serigala”), kompleks markas besar Hitler di Gierłoż dekat Kętrzyn, Polandia timur laut. Penggalian selama tiga pekan itu dipimpin Jakub M. Niebylski dan Bartłomiej Sz. Szmoniewski dari Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia, bersama Yayasan Latebra dan pengelola kawasan hutan Srokowo, sebagaimana dilaporkan HeritageDaily dan layanan sains negara Polandia Nauka w Polsce pada 8 Juli 2026.

Yang membawa mereka kembali adalah temuan dua tahun sebelumnya. Pada 2024, enam kerangka manusia — orang dewasa dan anak-anak — tersingkap di lokasi itu, terkubur dangkal hanya sekitar 20 sentimeter di bawah permukaan, dan semuanya tanpa telapak tangan serta telapak kaki. Penyelidikan waktu itu tidak berhasil memastikan siapa mereka, kapan mereka mati, atau bagaimana. Kali ini para peneliti mencari kemungkinan sisa rangka yang hilang, memetakan posisi kubur terhadap dinding bangunan dan arah mata angin, serta memeriksa fondasi rumah itu sendiri. “Pekerjaan kami di satu sisi bertujuan meneliti apakah di dalam bangunan ini ada fragmen-fragmen yang hilang dari kerangka yang sudah ditemukan,” kata Niebylski. Pertanyaan kuncinya, tambah dia, adalah apakah pemakaman itu justru lebih tua daripada bangunannya.

Rumah Göring sendiri adalah anomali arsitektural di tengah kompleks militer: sebuah kediaman sipil berdinding kayu yang dibungkus cangkang beton bertulang bata. Wolfsschanze adalah markas komando Hitler di front timur sejak 1941 hingga akhir 1944 — tempat ia memimpin invasi ke Uni Soviet, dan tempat Claus von Stauffenberg meledakkan bom dalam upaya pembunuhan 20 Juli 1944 yang gagal. Kompleks itu diledakkan sendiri oleh Jerman saat mundur pada Januari 1945 dan sejak itu ditelan hutan.

Kasus ini memperlihatkan sifat khas arkeologi konflik abad ke-20: bukti materialnya masih segar, tetapi maknanya justru paling sulit dipastikan. Kerangka tanpa tangan dan kaki di halaman rumah seorang pemimpin Nazi mengundang banyak hipotesis — korban kejahatan Nazi, korban tentara Soviet yang datang belakangan, atau pemakaman yang sama sekali mendahului perang. Para arkeolog memilih tidak berspekulasi lebih jauh sebelum tanah selesai diayak dan tiap paku serta pecahan perabot dicatat.

Sumber