8 Juli 2026
Kamp militer Yunani berusia 2.200 tahun terungkap di Uzbekistan, di tepi timur dunia Hellenistik
Survei geofisika dan ekskavasi di bukit Iskandar Tepa, Uzbekistan selatan, mengungkap kamp militer Hellenistik berparit sepanjang 400 meter dari abad ke-2 SM.
- Arkeologi
- Dunia kuno
- Fortifikasi
Sebuah bukit rendah bernama Iskandar Tepa di Distrik Sherobod, Provinsi Surkhandarya, Uzbekistan selatan, ternyata menyimpan sisa kamp militer Yunani dari abad ke-2 SM. Tim arkeolog gabungan Ceko–Uzbekistan yang dipimpin Ladislav Stančo dari Universitas Charles, Praha — bersama Jan Kysela, Tomáš Tencer, Peter Milo, dan Shapulat Shaydullaev — memetakan situs itu dengan magnetometri dan radar penembus tanah, lalu menggali titik-titik terpilih. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Journal of Archaeological Science: Reports dan diberitakan HeritageDaily pada 8 Juli 2026 serta Arkeonews.
Temuan intinya adalah sebuah parit pertahanan yang melingkari puncak bukit sepanjang kira-kira 400 meter dan mengurung area sekitar 1,2 hektare. Penampang yang digali menunjukkan lebar parit 4 sampai 7 meter dengan kedalaman kurang dari satu meter, bertingkat, dan diapit lubang-lubang tiang — pertanda pernah berdiri palisade kayu di bibirnya. Di dalam perimeter tersebar guci-guci keramik besar yang diduga menampung air. Survei geofisika juga mendeteksi hampir 90 lubang lonjong di sisi timur dan barat situs, yang belakangan dipakai sebagai lahan pemakaman. Semua ini menyingkirkan dugaan lama bahwa Iskandar Tepa adalah permukiman kecil biasa: bentuknya adalah pos militer sementara, bukan kota.
Penanggalannya datang dari koin. Mata uang yang menyandang wajah penguasa Yunani-Baktria — Diodotus II, Euthydemus I, dan Demetrius I — menempatkan pendudukan situs pada abad ke-2 SM. Artinya kamp ini bukan buatan Aleksander Agung sendiri, melainkan karya para pewarisnya sekitar satu setengah abad setelah sang raja Makedonia menghancurkan pasukan Persia di Gaugamela pada 331 SM lalu mendorong kampanyenya jauh ke Asia Tengah. Nama bukit itu sendiri — Iskandar, sebutan setempat untuk Aleksander — adalah gema panjang ingatan lokal atas penaklukan tersebut.
Nilai temuan ini terletak pada letaknya: di perbatasan antara Baktria dan Sogdiana, dua kawasan yang paling keras melawan Aleksander dan paling lama menahan penetrasi Yunani. Kerajaan Yunani-Baktria yang lahir sesudahnya mempertahankan pemerintahan bergaya Hellenistik di wilayah yang kini terbentang di Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Pakistan. Kamp berparit di puncak bukit yang mengawasi oase kecil di bawahnya memperlihatkan bagaimana kekuasaan itu ditegakkan dari hari ke hari — bukan lewat pertempuran besar yang tercatat sejarawan, melainkan lewat pos-pos kecil yang mengawasi lembah dan jalur air.