← Semua kabar

4 Juli 2026

Nisan berukir satu nama "Boston" di pemakaman tua kota itu ternyata milik seorang kulit hitam merdeka yang wafat pada 1729

Kota Boston mengidentifikasi batu nisan di Granary Burying Ground sebagai milik Sebastian "Boston" Lake, bekas budak yang dibebaskan — diyakini salah satu nisan tertua orang kulit hitam merdeka di Amerika.

  • Historiografi
  • Warisan budaya

Di Granary Burying Ground, pemakaman bersejarah kota Boston yang dibuka pada 1660 dan menampung sekitar 5.000 makam — termasuk tokoh Revolusi Amerika seperti John Hancock dan Paul Revere — sebuah nisan batu tulis lusuh yang hanya berukir satu nama, “Boston”, lama terabaikan. Sebagaimana dilaporkan Smithsonian Magazine pada Juli 2026, penelusuran mengungkap bahwa penghuninya adalah Sebastian — kelak dikenal sebagai “Boston” — seorang bekas budak yang meninggal dalam keadaan merdeka.

Kelly Thomas dari Historic Burying Grounds Initiative mengenali nisan itu saat menelaah foto-foto batu nisan; nama tunggal menjadi petunjuk awal, sebab, katanya, orang-orang yang diperbudak kerap hanya dikenal dengan satu nama. Menurut Archaeology Magazine, rekaman baptis gereja, dokumen pembebasan, hingga sebuah obituari yang terbit di New-England Weekly Journal memperkuat identifikasinya — obituari untuk seorang kulit hitam merupakan hal yang sangat langka di Amerika kolonial. Nisan itu berhias motif death’s head bersayap, corak yang lazim pada batu nisan New England abad ke-17 dan awal ke-18.

Sebastian menikahi Jane Lake ketika keduanya masih diperbudak di rumah tangga yang berbeda, dan membaptis putri mereka di First Church pada sekitar 1701. Ia memperoleh kemerdekaan menyusul kematian pemiliknya, John Waite, pada 1702, dan namanya tercantum dalam daftar orang kulit hitam merdeka yang disusun pada 1708. Setelah puluhan tahun hidup bebas dan dikenal sebagai tukang serba bisa yang dihormati, ia wafat pada 28 Februari 1728 menurut kalender Julian (1729 dalam kalender modern) pada usia 70 tahun. Wali Kota Michelle Wu, yang mengumumkan temuan ini dalam pidato 4 Juli, menyebutnya “besar kemungkinan salah satu nisan tertua orang kulit hitam merdeka di Amerika” — sekeping kisah yang nyaris hilang, kini kembali ke permukaan di antara makam para pendiri bangsa.

Sumber