7 Juli 2026
Prancis kembalikan 23 artefak Suriah setelah 15 tahun tertahan oleh perang saudara
Dipinjamkan untuk pameran di Paris pada 2011 lalu terjebak oleh pecahnya perang saudara, 23 benda purbakala Suriah — termasuk mosaik Masjid Umayyah — akhirnya pulang ke Museum Nasional Damaskus.
- Warisan budaya
- Museum
- Repatriasi
Presiden Prancis Emmanuel Macron membawa pulang 23 benda purbakala Suriah dengan pesawat kepresidenannya dalam lawatan ke Damaskus pada Selasa, 7 Juli 2026 — kunjungan pertama seorang pemimpin besar Barat ke Suriah sejak tumbangnya Bashar al-Assad pada akhir 2024. Artefak-artefak itu diserahkan kepada Presiden Suriah Ahmed al-Charaa dan kini disimpan di Museum Nasional Damaskus, seperti dilaporkan Asharq Al-Awsat mengutip kantor berita SANA dan AFP.
Koleksi tersebut dipinjamkan pada 2011 untuk sebuah pameran benda purbakala Suriah di Institut Dunia Arab (Institut du monde arabe) di Paris, dan sedianya dikembalikan pada 2014. Pecahnya perang saudara Suriah membatalkan rencana itu, dan benda-benda tersebut tertahan di Prancis selama sekitar 15 tahun, terlebih setelah hubungan diplomatik kedua negara terputus di bawah pemerintahan Assad. Benda-benda itu milik museum-museum di Damaskus, Aleppo, Latakia, dan Palmyra, mencakup barang perunggu era Romawi, benda dari masa Bizantium dan Islam, serta sebuah panel mosaik berwarna kaya yang dulu menghiasi Masjid Umayyah. Rentang usianya membentang dari milenium kesembilan SM sampai abad ke-14–15 M.
“Hari ini kami menyingkap sejumlah benda purbakala yang telah dikembalikan ke Suriah,” kata Ayman al-Nabo, wakil direktur jenderal Direktorat Jenderal Purbakala dan Museum Suriah. Mantan direktur purbakala Suriah, Maamoun Abdulkarim, menanggapi dengan nada lega: “Saya sangat gembira bahwa, meski dengan segala yang telah terjadi, perang sudah usai, Suriah kembali terbuka bagi dunia.” Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut Prancis sebagai negara pertama yang bekerja sama dalam kampanye nasional memulangkan benda purbakala yang berada di luar negeri.
Kabar ini penting karena menunjukkan bagaimana perang memutus rantai perawatan warisan budaya, bukan hanya menghancurkannya secara langsung. Selama konflik, situs-situs Suriah — Palmyra yang paling terkenal — mengalami perusakan dan penjarahan besar-besaran, sementara benda yang kebetulan berada di luar negeri justru terkatung-katung tanpa jalur hukum dan diplomatik untuk pulang. Pemulangan 23 benda ini kecil dari segi jumlah, tetapi menjadi preseden bagi upaya Suriah menarik kembali koleksinya yang tersebar. Rangkuman peristiwa ini juga dimuat Archaeology Magazine.