7 Juli 2026
Rahang fosil berusia 90.000 tahun dari Gua Qafzeh menyimpan bukti kekerasan antarmanusia paling tua yang terdokumentasi
Kajian ulang atas fosil Qafzeh 25 di jurnal Scientific Reports menemukan luka benda tajam yang sudah menyembuh pada rahang seorang Homo sapiens, kemungkinan besar akibat kekerasan antarmanusia di masa Paleolitikum Tengah.
- Prasejarah
- Paleoantropologi
- Kekerasan
Sebuah kajian baru di jurnal Scientific Reports — diwartakan Phys.org dan Archaeology Magazine pada awal Juli 2026 — memaparkan salah satu bukti kekerasan antarmanusia tertua yang terdokumentasi: luka benda tajam yang sudah menyembuh pada rahang fosil Homo sapiens berusia sekitar 92.000–145.000 tahun dari Gua Qafzeh, Israel. Fosil yang dikenal sebagai Qafzeh 25 itu diperiksa ulang oleh tim pimpinan Ana Pantoja Pérez dari CENIEH (Pusat Nasional Penelitian Evolusi Manusia, Burgos, Spanyol) bersama Universitas Tel Aviv.
Lewat pemindaian micro-CT yang dipadukan dengan analisis makro dan mikroskopis, tim menemukan lesi linear pada mandibula (rahang bawah) kiri dan gigi premolar ketiga, konsisten dengan luka akibat benda tajam. Porositas tulang setempat dan penebalan di tepi luka menunjukkan cedera itu sempat mengalami penyembuhan — artinya sang individu selamat, setidaknya untuk sementara, sesudah dilukai. Meski kemungkinan kecelakaan tak bisa disingkirkan sepenuhnya, peneliti menilai kekerasan antarmanusia sebagai penyebab yang paling mungkin.
Gua Qafzeh terkenal sebagai salah satu situs pemakaman manusia paling tua yang diketahui. Analisis ini juga menyingkirkan kerusakan akibat karnivora atau paparan jasad yang berkepanjangan, dan pola pelestarian kerangka konsisten dengan penguburan yang disengaja — memperkuat gambaran bahwa manusia purba di sini sudah mengenal perlakuan khusus terhadap mayat. Menurut Pantoja Pérez, temuan ini menambah bukti bagi perdebatan tentang asal-usul perilaku kompleks: kekerasan antarindividu, perawatan bagi yang sakit atau terluka, dan praktik penguburan.
Bagi pembaca sejarah peperangan, temuan ini menyentuh akar paling dalam dari tema itu. Jauh sebelum ada pasukan, benteng, atau perang yang terorganisir, sudah ada luka pertama — jejak benturan antarmanusia yang tertoreh di tulang dan bertahan puluhan ribu tahun. Konflik, tampaknya, sudah setua spesies kita sendiri.