10 Juli 2026
Segel "aksara paku palsu" di Levant Selatan: ketika rupa tulisan jadi lambang status
Kajian di jurnal Levant menganalisis 13 segel silinder Levant Selatan bertulis paku dan pseudo-paku, dan berargumen tanda yang tak terbaca itu bukan pemalsuan modern melainkan cara kuno memanfaatkan wibawa tulisan.
- Historiografi
- Epigrafi
- Dunia kuno
Di Levant Selatan kuno, sejumlah segel silinder membawa inskripsi yang tampak seperti aksara paku (cuneiform) tetapi tak bisa dibaca sebagai teks yang benar. Sebuah kajian baru karya Jana Mynářová dari Charles University, terbit di jurnal Levant, menelaah 13 segel silinder semacam itu — bertulis paku asli maupun “pseudo-paku” — yang membentang dari Zaman Perunggu Tengah hingga Zaman Besi, rentang sekitar 1.500 tahun. Seperti dilaporkan Arkeonews pada 10 Juli 2026, tanda-tanda itu memang menyerupai aksara paku tanpa selalu menyampaikan teks yang terbaca.
Poin utama kajian ini bersifat historiografis: “aksara paku palsu” pada segel-segel tersebut bukan pemalsuan dalam arti modern. “So-called fake cuneiform on these seals was not fake in the modern sense of forgery. It was an ancient way of using the image of writing,” tulis Mynářová. Rupa tulisan itu sengaja dipakai sebagai sinyal sosial — penanda status, koneksi budaya, dan kekuasaan — yang bisa dikenali bahkan oleh pengamat yang tak melek huruf. Bagi mereka, guratan mirip paku menyiratkan akses ke budaya juru tulis, hubungan dengan dunia luar, pengetahuan administratif, perlindungan ilahi, atau kedudukan elite.
Bagi cara kita membaca artefak masa silam, temuan ini adalah pengingat agar berhati-hati menyimpulkan “asli” versus “palsu”. Segel-segel pseudo-paku, menurut kajian, membentuk tradisi tersendiri yang berakar pada Zaman Perunggu Tengah dan terkait gaya Levant utara serta Asyur Kuno. Dengan begitu, penampilan tulisan bisa bekerja sebagai penanda otoritas jauh setelah — atau bahkan tanpa — makna linguistiknya, membuka jendela ke negosiasi identitas dan kekuasaan di Levant pada Zaman Perunggu. Sebuah pelajaran bahwa dalam sejarah, citra kekuasaan kerap sama pentingnya dengan isinya.