← Semua kabar

9 Juli 2026

Kajian baru angkat kembali Thulamela, kerajaan Afrika abad ke-15 yang lama terabaikan di Taman Nasional Kruger

Studi di jurnal Conservation and Management of Archaeological Sites menilai ulang Thulamela — pusat politik dan dagang bertembok batu di Afrika Selatan (±1447–1643) dengan bukti pengolahan emas dan jaringan niaga Samudra Hindia.

  • Arkeologi
  • Historiografi
  • Sejarah afrika

Reruntuhan batu Thulamela yang tersembunyi di dalam Taman Nasional Kruger, Afrika Selatan, kembali menjadi sorotan lewat kajian baru yang menyebutnya salah satu kerajaan penting namun paling terlupakan di Afrika bagian selatan. Studi karya T. Forssman, J. van Heerden, L. Chewins, dan P. Delius yang terbit di jurnal Conservation and Management of Archaeological Sites menilai ulang Thulamela sebagai pusat politik dan ekonomi yang berkembang antara sekitar 1447 dan 1643 M — fase Zaman Besi akhir, setelah puncak kejayaan Mapungubwe dan Great Zimbabwe. Seperti dirangkum Arkeonews pada 9 Juli 2026, penanggalan radiokarbon menegaskan hunian utamanya pada rentang itu.

Bertengger di bukit batu pasir yang menghadap Sungai Limpopo dan Luvuvhu, Thulamela menempati posisi strategis yang menghubungkan komunitas pedalaman dengan jaringan dagang di pesisir tenggara Afrika dan dunia Samudra Hindia yang lebih luas. Para peneliti menemukan pecahan tembikar dengan residu emas yang menandakan emas bukan sekadar diperdagangkan, melainkan diolah di situs ini. Penggalian pada 1990-an sudah menyingkap permukiman seluas sembilan hektar dengan tembok batu kering, rumah, lorong, kandang ternak, panggung penyimpanan biji-bijian, dan monolit batu — namun sebagian besar temuannya lalu dikotakkan dan disimpan.

Di sinilah letak kritik historiografis kajian ini: Thulamela, tulis para penulis, menjadi “cukup terkenal untuk dikutip, tapi tidak cukup ditelaah untuk dipahami”. Puluhan tahun analisis yang tak tuntas membuat arti pentingnya nyaris luput dari sejarah besar Afrika, padahal ada bukti otoritas kerajaan, keterampilan tinggi, dan niaga jarak jauh. Tim peneliti kini berencana menelaah ulang koleksi tersimpan, menggali kembali, dan memetakan lanskap sekitar — tempat lebih dari 100 situs telah teridentifikasi — dengan LiDAR, penginderaan multispektral, dan pemetaan 3D, sebelum banjir, erosi, dan penjarahan menghapus buktinya. Kabar ini mengingatkan bahwa peta sejarah dunia masih menyimpan negara-negara besar yang tersisih dari narasi arus utama.

Sumber