← Semua kabar

14 Juli 2026

Untuk pertama kalinya, nama seorang astronom-matematikawan Maya terbaca: Sak Tahn Waax, 'Rubah Berdada Putih'

Tim di jurnal Antiquity mengidentifikasi tanda tangan matematikawan Maya abad ke-8 pada dinding penuh rumus astronomi di situs Xultun, Guatemala.

  • Maya
  • Arkeologi
  • Historiografi
  • Epigrafi
  • Amerika

Untuk pertama kalinya sebuah karya matematika dan astronomi dari zaman Klasik Maya berhasil dikaitkan dengan nama seorang individu. Dalam artikel yang terbit di jurnal Antiquity pada 14 Juli 2026, Franco D. Rossi, David Stuart, dan Heather Hurst membaca serangkaian 11 hieroglif yang tersembunyi di antara lebih dari 50 “mikroteks” matematika samar di dinding sebuah ruangan kecil (struktur 10K-2) di situs San Bartolo-Xultun, Guatemala, dekat perbatasan dengan Meksiko. Tanda tangan itu menyebut nama sang penulis: Sak Tahn Waax, yang berarti “Rubah Berdada Putih”.

Sak Tahn Waax hidup pada abad ke-8 M, dan rumus yang ia bubuhi tanda tangan bertarikh 781 M. Menurut Archaeology Magazine, ruangan itu berfungsi ganda sebagai kelas matematika sekaligus bengkel penyalinan codex — buku dari kertas kulit kayu. Rumus-rumusnya menyelaraskan kalender Maya dengan siklus planet Mars dan Venus, memadatkan enam siklus waktu ke dalam satu interval 2.920 hari. “Ini matematika yang benar-benar elegan dan rumit,” kata Hurst; keunggulannya, menurut para peneliti, adalah alasan sang astronom merasa perlu menandatanganinya.

Peradaban Maya Klasik kerap dikenal lewat raja, perang, dan monumen kemenangannya, tetapi juru tulis dan cendekiawannya nyaris selalu anonim. Identifikasi Sak Tahn Waax mengubah hal itu: ia menempatkan seorang ilmuwan bernama di jantung tradisi keilmuan Mesoamerika, sejajar dengan para astronom besar dunia kuno lain. Bagi historiografi Maya, temuan ini menegaskan bahwa pengetahuan astronomi yang tersimpan di codex bukan karya kolektif tanpa wajah, melainkan hasil kerja para pakar yang sadar akan keahlian mereka sendiri.

Sumber