- Klasik (Yunani abad ke-5 SM — Perang Yunani-Persia)
- Athena — Liga Hellenik (koalisi kota-negara Yunani)
Themistokles
“Arsitek "tembok kayu" Athena — negarawan yang mengubah surplus tambang perak menjadi armada, memenangkan Salamis, lalu mati dalam pengasingan di bawah lindungan kekaisaran yang ia kalahkan”
Negarawan dan ahli strategi laut Athena yang membangun armada trireme dari perak Laurion, menafsirkan nubuat "tembok kayu" sebagai kekuatan maritim, dan memaksa armada Xerxes bertempur di selat sempit Salamis (480 SM) — sebelum jatuh oleh ostrakisme, tuduhan berkhianat, dan wafat di pengasingan Persia.

Daftar isi
Lembar Data
| Julukan | Arsitek "tembok kayu" Athena — negarawan yang mengubah surplus tambang perak menjadi armada, memenangkan Salamis, lalu mati dalam pengasingan di bawah lindungan kekaisaran yang ia kalahkan |
|---|---|
| Pihak | Athena — Liga Hellenik (koalisi kota-negara Yunani) |
| Era | Klasik (Yunani abad ke-5 SM — Perang Yunani-Persia) |
| Hidup | k. 524 – k. 459 SM |
| Kawasan | Attika (Athena, pelabuhan Piraeus, Selat Salamis) dan Laut Aigea; masa pengasingan di Magnesia di Sungai Maiandros, Asia Kecil |
| Peran | Arkhon eponimos Athena (493/2 SM), strategos, panglima de facto koalisi laut Yunani di Salamis, arsitek thalassokrasi Athena |
| Keandalan sumber | Tinggi |
Themistokles (k. 524 – k. 459 SM)
Ringkasan singkat
Themistokles putra Neokles adalah negarawan Athena yang memenangkan sebuah perang sebelum perang itu dimulai. Bertahun-tahun sebelum armada Xerxes I memasuki Laut Aigea, ia membujuk sesama warganya melakukan sesuatu yang hampir tak masuk akal secara politik: tidak membagikan surplus perak dari tambang negara kepada rakyat, melainkan menenggelamkannya ke dalam kayu, tembaga, dan tali — sebuah armada trireme. Ketika Persia datang pada 480 SM, armada itulah “tembok kayu” yang menyelamatkan Yunani. Di Selat Salamis ia memancing armada raksasa Persia masuk ke perairan sempit tempat keunggulan jumlah berubah menjadi beban, dan menghancurkannya.
Hidupnya lalu berbalik dengan ironi yang nyaris teatrikal. Sang penyelamat Athena di-ostrakisme oleh kota yang ia selamatkan, dituduh berkomplot dengan Persia, dijatuhi hukuman mati in absentia, dan mengakhiri hidupnya sebagai gubernur bergaji di bawah Raja Diraja Persia — musuh yang armadanya ia tenggelamkan.
Catatan keandalan keseluruhan: tinggi (untuk ukuran tokoh kuno). Themistokles termasuk figur Yunani klasik yang paling terdokumentasi: ada tiga lapis sumber yang saling melengkapi sekaligus saling bertentangan — Herodotos (menulis satu-dua generasi setelah peristiwa; kagum pada kecerdikannya, tetapi juga mencatat keserakahannya), Thukydides (lebih dekat dan lebih analitis; nyaris memuja kejeniusannya), dan Plutarkhos (empat abad kemudian, memakai sumber-sumber yang kini hilang). Yang diperdebatkan — jumlah kapal dalam dekret armada, perannya di Marathon, keaslian Dekret Troizen, kebenaran muslihat Sikinnos, identitas raja Persia yang memberinya suaka, dan cara kematiannya — ditandai jujur di badan tulisan ini.
Latar & masa muda
Ia lahir sekitar 524 SM (keandalan: sedang — angka ini dihitung mundur dari usia 65 tahun saat wafat yang disebut Plutarkhos, bukan dari catatan kelahiran). Ayahnya, Neokles, oleh Plutarkhos disebut “orang yang tidak begitu menonjol di Athena, seorang Phrearrhian menurut deme, dari suku Leontis” (Themistocles 1). Ibunya bukan warga Athena — satu epitaf menyebutnya perempuan Thracia, tradisi lain menyebut asal Karia (keandalan: sedang; Plutarkhos sendiri menyajikan versi yang bersaing).
Status itu penting. Darah campur membuatnya secara sosial berada di pinggir lingkaran bangsawan Athena. Plutarkhos menautkan hal ini dengan kebiasaan Themistokles muda mengajak pemuda-pemuda bangsawan berlatih di gimnasium Kynosarges, tempat kaum berdarah campuran — dengan begitu, tulis Plutarkhos, ia “mengaburkan batas antara orang asing dan warga sah”. Anekdot semacam ini mungkin sebagian topos (motif sastra “manusia yang membuat dirinya sendiri”), tetapi arah kariernya nyata: ia naik karena kecakapan, bukan silsilah.
Plutarkhos (Themistocles 2) menggambarkannya sejak kecil sebagai pribadi yang menggebu, cerdas secara alamiah, dan condong ke kehidupan publik; alih-alih bermain seperti anak lain, ia menyusun dan melatih pidato tiruan. Gurunya konon berkata anak itu akan menjadi sesuatu yang besar — entah untuk kebaikan atau keburukan. Penilaian itu, sebagaimana akan terlihat, terbukti dua-duanya.
Naik ke pucuk komando
Themistokles menjadi arkhon eponimos — jabatan tahunan tertinggi Athena — pada 493/2 SM (keandalan: sedang-tinggi). Jona Lendering merumuskannya dengan tepat: baru pada titik inilah ia “menjadi terlihat bagi kita”. Sejak awal masa jabatan itu, perhatiannya tertuju ke satu arah yang tidak lazim bagi polis yang membanggakan hoplitnya: laut. Ia memulai pengembangan Piraeus sebagai pelabuhan militer, karena — kata Plutarkhos (bab 19) — “ia telah memperhatikan bentuk pelabuhannya yang menguntungkan, dan ingin mengikatkan seluruh kota kepada laut.”
Tentang Marathon (490 SM), kehati-hatian diperlukan. Sumber-sumber belakangan menyebutnya salah satu wakil komandan Athena di sana. Lendering menilai klaim itu “mungkin benar, tetapi lebih mungkin kisah itu diilhami oleh keberhasilan Themistokles kemudian” (keandalan peran spesifik: rendah). Yang lebih aman dikatakan hanyalah apa yang Plutarkhos (bab 3) tulis: trofi Miltiades membuat Themistokles tidak bisa tidur.
Jalan ke puncak juga ditempuh dengan menyingkirkan lawan. Athenaion Politeia 22 mencatat ostrakisme — pengasingan sepuluh tahun lewat pemungutan suara pada pecahan tembikar — dipakai berturut-turut terhadap Hipparkhos, Megakles, lalu Aristides putra Lysimakhos, tepat “pada masa” pembangunan armada, yaitu 482 SM. Plutarkhos menegaskan Themistokles-lah yang memimpin faksi yang membuang Aristides (keandalan: tinggi — dua sumber independen).
Kampanye-kampanye utama
Dekret armada 483/2 SM: perak yang tidak dibagikan
Ini keputusan terpenting dalam hidupnya, dan sumber-sumber berselisih soal angkanya.
- Herodotos VII.144: pendapatan tambang perak Laurion melimpah; Themistokles membujuk Athena membangun 200 kapal perang — nominalnya “untuk perang melawan Aigina”, bukan melawan Persia.
- Athenaion Politeia 22.7: tambang Maroneia memberi negara surplus 100 talenta; Themistokles mengusulkan uang itu dipinjamkan kepada 100 orang Athena terkaya, masing-masing satu talenta, dan tiap peminjam membangun satu kapal — “100 trireme … dan dengan kapal-kapal ini mereka bertempur dalam pertempuran laut di Salamis.”
- Plutarkhos 4: “dengan uang-uang itu mereka membangun seratus trireme, yang dengannya mereka benar-benar bertempur di Salamis melawan Xerxes.”
Keandalan angka: sedang; jangan dipilih salah satu tanpa catatan. Dua ratus (Herodotos) melawan seratus (Ath.Pol. + Plutarkhos) tidak dapat didamaikan sepenuhnya; rekonstruksi modern umumnya membaca 100 kapal sebagai angkatan pertama tahun 483/2 dan pembangunan bertahap hingga mendekati 200 kapal menjelang 480 SM.
Yang pasti justru bukan angkanya, melainkan dua akibatnya. Pertama, Athena tiba-tiba memiliki armada terbesar di Yunani. Kedua — dan ini sering luput — trireme membutuhkan pendayung, dan pendayung diambil dari thetes, warga termiskin yang tak mampu membeli perisai hoplit. Dengan menaruh nasib kota di tangan mereka, Themistokles secara tak langsung memberi bobot politik kepada kelas bawah Athena: armada dan demokrasi radikal tumbuh dari akar yang sama.
Nubuat “tembok kayu” (480 SM)
Ketika invasi mendekat, Pythia di Delphi memberi Athena nubuat kedua yang menyebut “tembok berkayu” sebagai benteng, dan “Salamis yang ilahi” yang akan membawa maut bagi “anak-anak perempuan” (Herodotos VII.141). Athena terbelah menafsirkannya: para tetua membaca “tembok kayu” sebagai pagar kayu tua di Akropolis; yang lain membaca kapal (VII.142).
Themistokles memutuskan perdebatan itu dengan penafsiran yang berani: nubuat itu, katanya, ditujukan kepada musuh Athena, bukan kepada Athena — sebab dewa menyebut Salamis “ilahi”, bukan “kejam”; dan “tembok kayu” itu tak lain adalah armada. Majelis menerimanya dan memutuskan bertempur di laut (VII.143). Apakah tafsir ini keyakinan tulus atau retorika yang dirancang untuk membenarkan strategi yang sudah ia pilih, sumber tidak memungkinkan kita memastikan.
Artemision, evakuasi Attika, dan uang yang menempel di tangan
Pada Agustus 480 SM armada Yunani bertempur menahan di Artemision, sejajar dengan pertahanan darat di Thermopylae. Di sini Herodotos (VIII.4–5) mencatat episode yang tak menyenangkan: orang Euboia menyuap Themistokles 30 talenta agar armada tidak mundur; ia lalu menyerahkan 5 talenta kepada Eurybiades (panglima Sparta) dan 3 talenta kepada Adeimantos (Korinthos) — seolah-olah dari kantongnya sendiri — dan menyimpan sisanya diam-diam. Strategi yang benar, dibiayai dengan cara yang kotor (keandalan: sedang-tinggi; ini riwayat Herodotos sendiri, bukan tuduhan musuhnya).

Attika kemudian dikosongkan: penduduk diungsikan ke Troizen, Salamis, dan Aigina. Prasasti yang dikenal sebagai Dekret Troizen (ditemukan 1959, dipublikasikan M. H. Jameson 1960) memuat keputusan majelis itu. DIPERDEBATKAN: bentuk hurufnya “jelas berasal dari masa yang lebih kemudian” (sekitar 300 SM), meski Lendering menilai “teks utamanya kemungkinan otentik”. Sebagian sejarawan memandangnya rekonstruksi atau propaganda abad ke-4 SM. Jangan membacanya sebagai dokumen asli 480 SM tanpa catatan ini.
Salamis (akhir September 480 SM)
Di dewan perang, para komandan Peloponnesos ingin menarik armada ke Tanah Genting Korinthos. Themistokles berpendapat sebaliknya: laut lepas menguntungkan armada Persia yang lebih besar; selat sempit akan mengubah jumlah menjadi kutukan.
Ketika bujukan tak cukup, ia menempuh tipu daya. Herodotos VIII.75 menceritakan ia mengirim Sikinnos, pengasuh anak-anaknya, diam-diam ke kubu Persia dengan pesan bahwa orang Yunani telah patah semangat dan hendak melarikan diri — sebuah undangan bagi Xerxes untuk mengurung selat dan menutup jalan keluar. Persia melakukannya persis seperti yang Themistokles inginkan: memasuki perairan sempit, semalaman berjaga, kehilangan keteraturan.
DIPERDEBATKAN sebagian: sejumlah sejarawan meragukan detail muslihat ini. Namun inti kisahnya didukung Aiskhilos dalam Persai (dipentaskan 472 SM, delapan tahun setelah peristiwa, oleh seorang veteran perang di hadapan penonton yang juga veteran): ada seorang Yunani yang mengirim pesan menyesatkan kepada Xerxes. Dukungan nyaris-sezaman itu membuat rangka kisahnya cukup kokoh (keandalan: sedang-tinggi).
Rincian pertempurannya diuraikan di entri Pertempuran Salamis.
Setelah kemenangan: dua tembok dan satu asuransi
Sesudah Salamis, Themistokles mengusulkan mengejar armada Persia sampai Hellespont dan memutus jembatan pontonnya; Eurybiades menolak. Ia lalu mengirim Sikinnos untuk kedua kalinya kepada Xerxes — kali ini mengaku telah menahan orang Yunani agar tidak merusak jembatan itu. Herodotos (VIII.109) tidak menyembunyikan motifnya: ia berkata demikian “dengan maksud menaruh sedikit jasa pada orang Persia, agar ia punya tempat berlindung seandainya kelak ia menderita sesuatu di tangan orang Athena.” Kalimat itu, ditulis puluhan tahun sebelum ia benar-benar membutuhkan tempat berlindung, kelak terbaca seperti nubuat.
Pada musim yang sama ia berkeliling memeras pulau-pulau Aigea. Andros menolak, menjawab dengan getir bahwa mereka hanya memiliki dua dewi yang tidak berguna — Kemiskinan dan Ketidakberdayaan; Karystos dan Paros membayar. Ia mengumpulkan uang besar, tulis Herodotos (VIII.111–112), tanpa sepengetahuan para jenderal lain.
Warisan strategisnya yang terakhir dan mungkin terbesar dicatat Thukydides I.90–93 (keandalan: tinggi). Sparta keberatan Athena membangun kembali temboknya. Themistokles pergi ke Sparta sebagai duta, lalu sengaja mengulur perundingan — berpura-pura menunggu rekan-rekannya — sementara di Athena seluruh warga, laki-laki, perempuan, dan anak-anak, membangun tembok siang-malam dari puing rumah dan batu nisan. Ketika tembok itu sudah cukup tinggi untuk dipertahankan, ia berterus terang: Athena kini sanggup menilai kepentingannya sendiri, dan bicara sebagai kota yang setara. Ia juga menuntaskan pembentengan Piraeus. Sebuah posisi strategis dimenangkan tanpa satu pertempuran pun.
Ciri khas doktrin & gaya bertempur

- Kekuatan laut sebagai pusat gravitasi. Ia satu-satunya pemimpin Athena seangkatannya yang melihat bahwa masa depan kotanya ada di dek trireme, bukan di barisan hoplit — dan ia bertindak atas keyakinan itu bertahun-tahun sebelum pembuktiannya tiba.
- Medan sebagai pengganda kekuatan. Selat sempit Salamis dipilih justru karena mempersempit ruang: armada yang lebih besar kehilangan kemampuannya memutari lawan (periplous) dan berbalik menjadi kerumunan yang saling bertumbukan. Ini penerapan awal prinsip ekonomi kekuatan.
- Intelijen dan disinformasi terukur. Pesan Sikinnos dikirim dua kali, ke penerima yang sama, untuk dua tujuan yang berlawanan — sekali untuk memancing Xerxes bertempur, sekali untuk menabung jasa bila kelak ia butuh suaka.
- Diplomasi mengulur waktu dan fait accompli. Tembok Athena berdiri karena Themistokles membeli waktu dengan kata-kata.
- Antisipasi. Inilah yang membuat Thukydides — sejarawan yang pelit memuji — memberinya penilaian tertinggi dalam seluruh karyanya.
“Themistokles adalah orang yang padanya paling sungguh-sungguh tampak kekuatan penilaian alamiah,” yang mampu “mengatakan apa yang patut dilakukan dalam keadaan yang tiba-tiba.”
— Thukydides I.138.3 (terjemahan Inggris pada teks Perseus Digital Library, dialihbahasakan ke Indonesia)
Kelemahan & kontroversi
Menyajikan Themistokles sebagai pahlawan tanpa cela berarti mengabaikan sumber yang paling ramah kepadanya.
- Korupsi dan pengayaan diri. Suap Euboia yang sisanya ia simpan (Herodotos VIII.4–5) dan pemerasan Andros, Karystos, serta Paros (VIII.111–112) bukan fitnah lawan politiknya — keduanya diriwayatkan Herodotos, sumber tertua kita.
- “Asuransi” ke pihak Persia. Herodotos VIII.109 menyatakan terang-terangan bahwa ia menabung jasa pada Xerxes sebagai jalan keluar pribadi. Ini membuat tuduhan medisme yang kelak menjeratnya tidak sepenuhnya tanpa bahan, meskipun tuduhan itu sendiri kemungkinan besar palsu.
- Ambisi dan kehausan akan pujian. Plutarkhos (bab 22) menggambarkan ostrakismenya sebagai pelampiasan kecemburuan atas kekuasaannya yang tumbuh tanpa batas — ostrakisme, tulisnya, “bukan hukuman, melainkan cara meredakan iri hati”.
- Reputasi yang terbelah. Herodotos memberi kita seorang jenius yang tangannya lengket; Thukydides memberi kita kejeniusan hampir tanpa bayangan moral. Kedua potret itu ditulis oleh orang Yunani, tentang orang Yunani, dalam satu abad yang sama.
Kejatuhan dan akhir
Sekitar 471 SM (keandalan tanggal: sedang) Themistokles di-ostrakisme dan menetap di Argos. Lendering jujur mengakui: “kita tidak tahu mengapa ia begitu kontroversial.”
Ketika konspirasi Pausanias — wali raja Sparta yang berkorespondensi dengan Persia — terbongkar, Themistokles ikut dituduh terlibat. Penilaian Lendering atas tuduhan bahwa ia berunding dengan Xerxes: “kemungkinan besar tidak benar, tetapi orang Athena mengubah ostrakisme itu menjadi hukuman mati.” Ia melarikan diri — menurut Thukydides (I.136–137) lewat Korkyra dan tanah Molossia — menyeberang ke Asia, dan meminta suaka kepada Raja Diraja Persia.
DIPERDEBATKAN — raja yang mana? Thukydides (I.137) menyebut Artaxerxes I, putra Xerxes, yang baru naik takhta (karena itu setelah 465 SM). Kharon dari Lampsakos — penulis yang lebih sezaman — dan Ephoros menyebut Xerxes sendiri. Kronologi modern umumnya condong ke Artaxerxes, tetapi kedua versi bersandar pada sumber kredibel dan tidak boleh disajikan sebagai satu kepastian.
Raja itu memberinya tiga kota sebagai nafkah (Thukydides I.138, keandalan: tinggi): Magnesia — dengan pendapatan 50 talenta setahun — untuk rotinya, Lampsakos untuk anggurnya, dan Myous untuk lauknya. Ia wafat di sana sekitar 459 SM. Thukydides menulis ia jatuh sakit dan meninggal, menambahkan bahwa “sebagian orang mengatakan ia mati dengan sukarela karena racun, sebab merasa tak sanggup memenuhi apa yang telah ia janjikan kepada raja”; tulang-belulangnya, kata sebuah riwayat, diam-diam dibawa pulang dan dikuburkan di tanah Attika — sesuatu yang terlarang bagi terpidana pengkhianatan. Plutarkhos (bab 31) memberi versi yang jauh lebih dramatis: pada tahun keenam puluh lima hidupnya ia berkurban kepada para dewa, berpamitan kepada kawan-kawannya, lalu — “sebagaimana cerita yang beredar” — meminum darah banteng, memilih mati daripada memimpin pasukan Persia melawan tanah airnya.
Keandalan: tinggi untuk fakta kematiannya di Magnesia sekitar 459 SM; rendah untuk darah banteng — Plutarkhos sendiri menandainya sebagai “cerita yang beredar”, dan Thukydides yang jauh lebih dekat ke peristiwa tidak mengetahuinya. Yang mungkin paling jujur dikatakan: seorang Yunani yang telah menyelamatkan Yunani mati sebagai pejabat Persia, dan generasi sesudahnya merasa perlu memberinya kematian yang lebih pantas daripada yang sebenarnya.
Warisan

Piraeus dan thalassokrasi Athena. Pelabuhan yang ia bentengi dan armada yang ia bangun menjadi tulang punggung Liga Delos dan, dalam satu generasi, kekaisaran laut Athena abad ke-5 SM. Budaya klasik Athena — teater, filsafat, Parthenon — dibiayai dan dilindungi oleh kekuatan laut yang ia ciptakan.
Demokrasi radikal. Dengan menjadikan pendayung thetes sebagai penentu keselamatan kota, ia memberi kelas termiskin Athena bobot politik yang tak dapat lagi dicabut.
Salamis. Banyak sejarawan menempatkan kemenangan itu sebagai salah satu pertempuran laut paling menentukan dalam sejarah dunia — bukan karena jumlah korbannya, melainkan karena apa yang tidak terjadi sesudahnya.
Warisan historiografis. Lendering menekankan bahwa dampak historis Themistokles justru lebih pasti daripada pribadinya: banyak “prestasi” yang melekat pada namanya — Marathon, keaslian Dekret Troizen, rincian muslihat Sikinnos — diperdebatkan. Ia adalah pengingat bahwa tokoh besar sering diselimuti legenda justru karena besarnya.
Pelajaran
- Kemenangan disiapkan bertahun-tahun sebelum pertempuran, oleh orang yang bersedia menukar kenikmatan hari ini dengan keselamatan hari esok. Perak Laurion bisa dibagikan; ia memilih kapal.
- Pilih medan sebelum memilih bertempur. Kekuatan lawan yang lebih besar dinetralkan bukan dengan menyamainya, melainkan dengan memaksanya masuk ke ruang yang tak muat menampung kelebihannya.
- Yang paling sulit dibujuk bukan musuh, melainkan kawan. Perlawanan terbesar Themistokles datang dari dewan perangnya sendiri, bukan dari Xerxes.
- Kecakapan luar biasa tidak mengimunkan siapa pun dari keserakahan. Tangan yang menyelamatkan Yunani adalah tangan yang memeras Andros.
- Kota mengingat jasa lebih pendek daripada mengingat iri hati. Ostrakisme bukan hukuman atas kesalahan, melainkan atas kebesaran.
- Siapkan pintu keluar, tetapi ketahuilah pintu itu bisa menjadi penjara. Jasa yang ia tabung pada Persia benar-benar menyelamatkannya — dan sekaligus membenarkan tuduhan yang membuangnya.
Sumber & bacaan lanjutan
Sumber primer (akses bebas):
- Herodotos, Historiai VII.138–174 — nubuat “tembok kayu” (VII.141–143) dan dekret armada Laurion (VII.144). Terjemahan A. D. Godley, LacusCurtius: penelope.uchicago.edu/…/Herodotus/7c*.html
- Herodotos, Historiai VIII.1–39 — suap Euboia di Artemision (VIII.4–5): penelope.uchicago.edu/…/Herodotus/8a*.html
- Herodotos, Historiai VIII.40–96 — muslihat Sikinnos (VIII.75) dan pertempuran Salamis: penelope.uchicago.edu/…/Herodotus/8b*.html
- Herodotos, Historiai VIII.97–144 — pesan kedua kepada Xerxes (VIII.109) dan pemerasan pulau-pulau (VIII.111–112): penelope.uchicago.edu/…/Herodotus/8c*.html
- Thukydides, Historiai Perang Peloponnesos I.138 — watak Themistokles, tiga kota pemberian raja, dan kematiannya. Perseus Digital Library: perseus.tufts.edu/…/Thuc.+1.138 (bagian I.90–93 tentang pembangunan tembok Athena ada pada halaman yang sama, dengan menaikkan nomor bab)
- Plutarkhos, Kehidupan Themistokles (bab 1–31) — asal-usul, 100 trireme, Piraeus, Sikinnos, ostrakisme, kematian. Terjemahan Bernadotte Perrin (Loeb), LacusCurtius: penelope.uchicago.edu/…/Plutarch/Lives/Themistocles*.html
- Aristoteles (atau Ps.-Aristoteles), Athenaion Politeia 22 — tambang Maroneia, 100 talenta, 100 trireme, dan ostrakisme Aristides. Perseus Digital Library: perseus.tufts.edu/…/Ath.+Pol.+22
Sekunder (akses bebas):
- Jona Lendering, “Themistocles”, Livius.org — sintesis kritis yang menandai dengan jelas apa yang diperdebatkan (arkhon 493/2 SM; Dekret Troizen bertarikh huruf ~300 SM; tuduhan medisme “kemungkinan besar tidak benar”; ambiguitas Xerxes vs Artaxerxes): livius.org/articles/person/themistocles/
Bacaan lanjutan (rujukan standar, bukan sumber yang dikutip di entri ini):
- J. F. Lazenby, The Defence of Greece 490–479 BC (Aris & Phillips, 1993).
- John R. Hale, Lords of the Sea: The Epic Story of the Athenian Navy and the Birth of Democracy (Viking, 2009).
- Frank J. Frost, Plutarch’s Themistocles: A Historical Commentary (Princeton University Press, 1980).
- A. J. Podlecki, The Life of Themistocles: A Critical Survey of the Literary and Archaeological Evidence (McGill-Queen’s University Press, 1975).
Tema
Pertempuran terkait
Terkait (belum ada entri): artemision-480sm