• Doktrin & Konsep
  • Strategi

Aliansi

Juga dikenal: alliance (Inggris) · coalition warfare — perang koalisi

Kerja sama keamanan untuk menghadapi ancaman bersama, yang kekuatannya bergantung pada kesesuaian tujuan, kejelasan kewajiban, dan bantuan yang tiba tepat waktu.

Lembar Data

KategoriStrategi
Istilah asingalliance (Inggris) · coalition warfare — perang koalisi
DomainCampuran
Era penggunaanLintas zaman, dari negara kuno hingga sistem persekutuan modern
CounterMengurangi ancaman yang menyatukan lawan; Memisahkan pasukan sekutu sebelum bergabung; Menawarkan penyelesaian politik yang dapat dipercaya; Menghambat koordinasi dan bantuan antar sekutu
Terlihat di8 lembar pertempuran

Apa arti label-label ini? →

Daftar isi

Apa itu

Aliansi adalah kerja sama keamanan antara pihak-pihak yang tetap mempunyai kepentingan sendiri. Mereka bersedia membantu satu sama lain karena menghadapi bahaya atau mengejar tujuan yang tidak dapat ditangani sama baiknya sendirian. Di dalam koleksi ini, aliansi dibahas sebagai pilihan strategi politik-militer: siapa yang diajak bekerja sama, bantuan apa yang dijanjikan, dan dalam keadaan apa janji itu berlaku.

Untuk membedakan tingkat pembahasannya, aliansi di sini menunjuk hubungan keamanan antar-pihak; koalisi perang menunjuk kerja sama mereka dalam perang tertentu. Hubungan politik itu baru menghasilkan kekuatan tempur ketika ada pasukan, persediaan, informasi, dan keputusan yang dapat dipadukan. Ia berbeda dari perang gabungan antarcabang senjata: dua negara dapat bersekutu tetapi tentaranya tetap sulit bekerja bersama.

Stephen M. Walt, dalam The Origins of Alliances, menempatkan ancaman sebagai penjelasan utama pembentukan aliansi, bukan sekadar besarnya kekuatan suatu negara. Ia membedakan balancing, bersekutu untuk menahan sumber bahaya, dari bandwagoning, merapat kepada sumber bahaya itu. Ini membantu menjelaskan mengapa mencari sekutu bukan perkara menghitung siapa yang paling kuat lalu mengikutinya. Kajian Walt terutama bertumpu pada diplomasi Timur Tengah; kerangka tersebut perlu diuji kembali ketika diterapkan pada masa dan kawasan lain.

Cara kerjanya

Jomini membahas perang dengan sekutu dalam artikel IV–V The Art of War. Keuntungannya melampaui tambahan prajurit: sekutu dapat mengancam arah lain yang semula aman bagi musuh. Tetapi ia juga menuntut pembagian tugas yang jelas dan tujuan operasi yang cocok dengan kepentingan bersama. Dari sini, cara kerja aliansi dapat diuraikan menjadi empat langkah.

  1. Tentukan irisan kepentingan. Dua pihak tidak harus menyukai semua tujuan satu sama lain. Mereka harus mengetahui masalah mana yang hendak ditangani bersama, dan kapan tujuan itu dianggap tercapai.
  2. Ubah dukungan menjadi kewajiban konkret. Janji bantuan perlu diterjemahkan menjadi kontribusi: pasukan, jalur lewat, pangkalan, bekal, atau perlindungan terhadap arah tertentu. Jomini membedakan kontingen pembantu dari pihak utama yang ikut menentukan operasi; keduanya tidak memiliki peran yang sama.
  3. Hubungkan rencana dengan kemampuan saling menjangkau. Pasukan sekutu yang terpisah harus punya jalan untuk bergabung atau saling menopang. Peta, persediaan, dan waktu tempuh ikut menentukan apakah bantuan dapat digunakan.
  4. Pelihara persetujuan selama perang. Pembagian peran perlu tetap masuk akal ketika keadaan berubah. Tujuan bersama yang kabur membuat keputusan militer tersandera oleh pertanyaan politik yang belum diselesaikan.

Rangkaian ringkasnya: kepentingan bersama → kewajiban jelas → bantuan yang bisa dilaksanakan → tindakan terkoordinasi. Putus di salah satu mata rantai, jumlah sekutu di atas kertas tidak banyak menolong.

Kenapa sulit: takut ditinggal, takut terseret

Glenn H. Snyder merumuskan dilema aliansi melalui ketegangan antara abandonment dan entrapment: takut ditinggalkan sekutu saat membutuhkan bantuan, sekaligus takut terseret oleh kebijakan sekutu. Kedua kekhawatiran itu menarik keputusan ke arah berbeda. Menegaskan dukungan dapat menenangkan rekan; membatasi dukungan dapat menjaga ruang keputusan sendiri. Persoalannya berhubungan pula dengan pilihan bersikap tegas atau berunding terhadap lawan.

Di medan perang, ada kesulitan lain yang lebih kasatmata. Tentara yang dikirim jauh dari negerinya dapat bergantung pada hasil pertempuran dan jalur pasokan sekutu. Jomini menunjukkan bahwa posisi semacam itu membatasi pilihan panglima: kerugian pihak lain bisa menjadi ancaman langsung terhadap pasukannya sendiri. Bantuan juga tidak datang serentak hanya karena para penguasa sudah sepakat.

Dari sudut anggota yang wilayahnya terancam, menunggu bisa terasa seperti pengkhianatan. Dari sudut sekutu yang diminta mengirim tentara, keterlibatan harus ditimbang terhadap keamanan dan tujuan sendiri. Analisis militer perlu memeriksa keduanya: apakah bantuan yang diminta memang dapat diberikan, dan apakah rencana bersama masih menguntungkan pihak yang harus memberikannya?

Terlihat di pertempuran ini

  • Austerlitz 1805 — memperlihatkan risiko bantuan jarak jauh. Dalam artikel XXIX, Jomini menyoroti bagaimana tentara Rusia menghadapi bahaya jauh dari pangkalannya setelah kekalahan sekutu Austria, lalu kembali terancam oleh hasil Austerlitz. Ia mengaitkan kekalahan itu dengan kesalahan rencana Weyrother. Penilaian tersebut adalah pembacaan Jomini, bukan alasan untuk mereduksi seluruh pertempuran menjadi kesalahan satu orang. Pelajaran aliansinya: komitmen politik tidak menghapus kerentanan operasional pihak yang datang membantu.
  • Waterloo 1815 — memperlihatkan manfaat menjaga kemungkinan bergabung. Dalam artikel XXII, Jomini membahas pilihan Blücher setelah Ligny: bergerak melalui Wavre menuju tentara Wellington di sekitar Mont-Saint-Jean. Gerakan itu mempertaruhkan jalur operasinya sendiri demi pertemuan dengan sekutu. Menurut analisis Jomini, keberhasilan terletak pada pilihan arah manuver yang memungkinkan kedua tentara saling menguatkan. Aliansi di sini menjadi keputusan bergerak, bukan sekadar pernyataan persahabatan.

Keduanya memperlihatkan mekanisme aliansi dari sisi yang berbeda: ketergantungan pada sekutu dapat mempersempit pilihan, tetapi koordinasi yang terlaksana dapat membuka peluang kemenangan. Tidak ada jaminan bahwa lebih banyak anggota selalu menghasilkan operasi yang lebih baik.

Cara mengalahkannya

Menghadapi aliansi berarti menghadapi hubungan antar-pihak sekaligus pasukannya. Berikut sintesis strategis dari pembahasan ancaman dan koordinasi di atas, bukan rumus keberhasilan yang berlaku di setiap perang.

  • Kurangi alasan mereka bersatu. Bila ancaman bersama menjadi perekat, penyelesaian yang dapat dipercaya dapat mengurangi kebutuhan untuk mempertahankan kerja sama melawan kita. Ancaman yang diperluas kepada semua anggota justru dapat mempererat hubungan mereka.
  • Cegah kekuatan yang terpisah saling membantu. Pada tingkat operasi, hambatan terhadap pertemuan, komunikasi, dan pasokan dapat membuat keunggulan gabungan sulit digunakan. Waterloo menunjukkan pentingnya menilai jalur yang benar-benar memungkinkan sekutu bergabung.
  • Kenali kepentingan tiap anggota. Tuntutan dan batas kompromi mereka mungkin berbeda. Sun Tzu, bab VII, menekankan perlunya mengetahui rencana pihak lain sebelum memasuki persekutuan. Prinsip kehati-hatian itu juga berguna untuk membaca persekutuan lawan: jangan menganggap semua anggotanya menghendaki hasil akhir yang sama.

Upaya memecah aliansi dapat gagal bila tawarannya tidak dipercaya. Menjanjikan perdamaian kepada satu pihak sambil mengancam kelangsungan hidupnya memberi alasan kuat bagi pihak tersebut untuk tetap mencari perlindungan bersama.

Pelajaran untuk medan kehidupan

Sebagai analogi untuk kerja sama sipil, pelajarannya cukup konkret. Sebelum memulai proyek bersama, tulis hasil yang ingin dicapai, kontribusi masing-masing, siapa yang boleh mengambil keputusan, dan apa yang dilakukan bila keadaan berubah. Periksa kemampuan memenuhi janji sebelum menjadikan janji itu dasar rencana.

Ketika rekan terlambat membantu, bedakan ketidakmauan dari ketidakmampuan. Keduanya memerlukan tanggapan berbeda. Ketika diminta setia, bicarakan pula batas tanggung jawab: kerja sama yang sehat menyediakan ruang menolak tindakan yang merugikan atau tidak etis. Hubungan sipil bukan perang; tujuannya adalah membangun keandalan tanpa menghapus kebebasan pihak lain.

Sumber & bacaan lanjutan

  • Stephen M. Walt, The Origins of Alliances (Cornell University Press, 1987), terutama kerangka bab 1–2 — laman buku dan pratinjau bab, JSTOR. [Akademik; pratinjau akses terbuka, buku berbayar.] Ancaman sebagai dasar pembentukan aliansi serta pembedaan balancing dan bandwagoning.
  • Glenn H. Snyder, “The Security Dilemma in Alliance Politics”, World Politics 36(4), Juli 1984, hlm. 461–495 — abstrak dan metadata, Cambridge Core. [Akademik; abstrak akses terbuka, artikel berbayar.] Rumusan dilema ditinggalkan atau terseret sekutu; tahun 1984 adalah tahun terbit jurnalnya.
  • Antoine-Henri Jomini, The Art of War, terjemahan G. H. Mendell dan W. P. Craighill (1862), artikel IV–V, XXII, dan XXIX — teks lengkap, Project Gutenberg. [Primer sebagai karya pemikiran militer klasik; akses terbuka.] Manfaat dan syarat kerja sama sekutu, manuver kampanye Waterloo, serta risiko ekspedisi bantuan pada 1805. Analisis klasik yang perlu dibaca kritis, bukan laporan netral tanpa sudut pandang.
  • Sun Tzu, The Art of War, terjemahan dan komentar Lionel Giles (1910), bab VII, bagian 12 — teks lengkap, Project Gutenberg. [Primer sebagai teks strategi klasik; akses terbuka.] Kehati-hatian dalam memasuki persekutuan; 1910 adalah tahun edisi terjemahan Giles, bukan tahun penulisan teks Tiongkoknya.

Jelajahi lembar-lembarnya