- Mesiu Awal
- 1666 M
Perang Makassar
Juga dikenal: Makassar War · Makasar-oorlog · Makassaarse Oorlog · Perang Gowa–VOC
Perang 1666–1669 saat VOC bersekutu dengan Arung Palakka (Bugis Bone) dan Soppeng menaklukkan Kesultanan Gowa-Tallo pimpinan Sultan Hasanuddin — berpuncak pada Perjanjian Bongaya (1667) dan jatuhnya Benteng Somba Opu (1669).
5.19°S 119.40°E · Sulawesi Selatan (Celebes) — jantung Kesultanan Gowa-Tallo di sekitar Makassar, Benteng Somba Opu dan Benteng Ujung Pandang di pesisir, Selat Makassar, serta pedalaman Bugis (Bone, Soppeng) dan pulau Buton di lepas pantai tenggara

Daftar isi
- Ringkasan singkat
- Narasi
- Istilah & latar penting
- Asal nama
- Konteks & sebab
- Pihak yang terlibat & jumlah pasukan
- Tokoh kunci
- Persenjataan & kendaraan perang
- Linimasa
- Strategi & taktik
- Diagram manuver
- Jalannya peperangan
- Sudut pandang para pihak
- Sudut pandang militer netral
- Hasil & dampak
- Pelajaran
- Sumber & bacaan lanjutan
Lembar Data
| Jenis | Perang |
|---|---|
| Skala | Perang regional |
| Tahun | 1666 M |
| Kawasan | Sulawesi Selatan (Celebes) — jantung Kesultanan Gowa-Tallo di sekitar Makassar, Benteng Somba Opu dan Benteng Ujung Pandang di pesisir, Selat Makassar, serta pedalaman Bugis (Bone, Soppeng) dan pulau Buton di lepas pantai tenggara |
| Negara modern | Indonesia |
| Hasil | Kemenangan menentukan |
| Pihak menang | Aliansi VOC–Bone (Arung Palakka) dan sekutu |
| Signifikansi | Mengubah sejarah |
| Keandalan sumber | Tinggi |
| Pihak berperang | Kesultanan Gowa-Tallo (Makassar) dan sekutunya, termasuk pangeran Ternate Kaicil Kalamata vs Verenigde Oostindische Compagnie (VOC/Belanda) bersekutu dengan Kesultanan Bone dan Soppeng (Bugis) di bawah Arung Palakka, plus kontingen Ternate, Ambon, dan Buton |
| Komandan | Sultan Hasanuddin (Gowa, "Ayam Jantan dari Timur" — mangkat 1670); Karaeng Karunrung (Mangkubumi Gowa, kubu garis keras penentang perdamaian); Kaicil Kalamata (pangeran Ternate di pihak Gowa); Cornelis Speelman (Laksamana VOC — kelak Gubernur Jenderal, wafat 1684); Arung Palakka (panglima Bugis Bone-Soppeng, sekutu VOC — Raja Bone, wafat 1696); Kapten Jonker (komandan Ambon di pihak VOC); Arung Belo Tosa'deng (panglima Bugis pihak VOC — gugur) |
| Kekuatan (pihak 1) | Gowa-Tallo: kerajaan maritim dengan mobilisasi besar — ekspedisi Buton saja (akhir 1666) mengerahkan 450 kapal dan ~15.000 orang di bawah Karaeng Bontomarannu; pada Agustus 1667 Speelman memperkirakan ~30.000 pasukan Makassar menghadangnya di sekitar Galesong (10.000 dari Turatea + 5.000 dari Bulo-Bulo di antaranya). Arsenal Somba Opu saat jatuh: 33 meriam (~46.000 pon) + 11 meriam (~24.000 pon), 145 senjata kecil, 60 musket, 23 arquebus, 8.483 peluru (Andaya 1981: 76, 88, 134). Keandalan SEDANG — angka-angka ini estimasi/catatan pihak VOC, bukan catatan Gowa sendiri |
| Kekuatan (pihak 2) | VOC + sekutu: armada awal Speelman (berangkat 24 Nov 1666) ~1.870 orang di kapal induk Tertholen + 20 kapal lain — di antaranya 818 pelaut Belanda, 578 serdadu Belanda, dan 395 prajurit pribumi (sisanya perwira/awak; Andaya 1981: 73, dari Stapel) — ditambah armada perahu perang Ternate. Pasukan darat membengkak oleh pemberontakan Bugis: Agustus 1667 total ~10.000 pasukan pribumi sekutu (7.000 di antaranya Bugis; Andaya: 88). Serbuan akhir Somba Opu (Juni 1669): ~2.000 prajurit Bugis + 572 lainnya, termasuk 83 serdadu dan 11 pelaut Belanda (Andaya: 131, dari arsip VOC). Keandalan TINGGI untuk angka-angka ini (catatan Kompeni via Andaya); jumlah total Bugis sepanjang perang tetap cair — pasukan datang-pergi mengikuti musim dan momentum |
| Korban (pihak 1) | Gowa: total korban tempur tidak tercatat andal (keandalan RENDAH), tetapi Andaya (dari arsip VOC & catatan harian raja Gowa-Tallo) merekam derita non-tempur yang berat: wabah 1668 menguburkan ~73 orang/hari di Somba Opu dan ~20/hari di Tallo; blokade menimbulkan kelaparan luas (di Selayar separuh penduduk mati lapar); 5.500 tawanan ekspedisi Buton ditinggalkan di "Pulau Penakluk" dan sebagian besar dibiarkan mati (Andaya: 77, 120-121, 130). Kerugian terbesar tetap politik-ekonomi: wilayah, monopoli, kedaulatan |
| Korban (pihak 2) | VOC + sekutu: Speelman melaporkan fase pertama (sampai Bongaya, Nov 1667) menelan 80 Belanda tewas tempur "meski jauh lebih banyak mati sakit"; pada kampanye Galesong (Agu 1667) penyakit menyisakan hampir hanya 250 serdadu Belanda yang mampu memanggul senjata. Wabah ("sampar") Apr–Jul 1668: 100 Belanda mati pada Mei, 125 Juni, 135 Juli; 2.000 dari 4.000 Bugis di Makassar jatuh sakit; garnisun Fort Rotterdam Apr 1668 tinggal 503 orang (175 tak berdaya). Serbuan pamungkas Somba Opu: 50 tewas + 68 luka di pihak penyerang hingga 17 Juni. Keandalan TINGGI (semua dari arsip VOC via Andaya: 88, 105, 118-121, 132); angka tersier "2.360-4.360 kematian wabah" TIDAK terkonfirmasi di Andaya dan tidak dipakai lagi |
Perang Makassar (1666–1669 M)
Ringkasan singkat
Perang Makassar adalah perang penaklukan besar di Sulawesi Selatan ketika Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) — bersekutu dengan pangeran buangan Bugis Arung Palakka dan kerajaan Bone-Soppeng — mematahkan Kesultanan Gowa-Tallo (Makassar), kekuatan maritim terbesar Nusantara timur yang belum tunduk, di bawah Sultan Hasanuddin. Perang secara umum dihitung dari keberangkatan armada Laksamana Cornelis Speelman dari Batavia pada 24 November 1666 hingga jatuhnya Benteng Somba Opu pada Juni 1669. Di tengahnya, Perjanjian Bongaya (18 November 1667) memaksakan syarat berat pada Gowa — tetapi Hasanuddin membatalkannya, sehingga perang berkobar lagi sampai bentengnya diledakkan dan direbut. Pemenangnya adalah aliansi VOC–Bone: monopoli rempah VOC di timur Nusantara terkunci, Bone menggantikan Gowa sebagai penguasa Sulawesi Selatan, dan ribuan orang Makassar menyebar (diaspora) melintasi Nusantara sebagai pelaut dan tentara bayaran.
Narasi
Pada 24 November 1666, sebuah armada berangkat dari Batavia menuju timur. Di geladak kapal induk Tertholen dan dua puluh kapal lain berkumpul sekitar 1.870 orang — 818 pelaut dan 578 serdadu Belanda, 395 prajurit pribumi dari Ambon dan Bugis. Yang memimpin adalah Cornelis Speelman, perwira VOC yang keras dan ambisius. Tetapi senjata paling tajam dalam ekspedisi itu bukan meriam kapal, melainkan seorang lelaki Bugis yang membawa dendam sepanjang hidupnya: Arung Palakka. Ketika utusan Gowa naik ke Tertholen dan mendapatinya berdiri di kabin — berseragam perwira Belanda, berkalung medali emas — mereka terperanjat ketakutan: di Makassar, Arung Palakka telah lama diyakini tewas di Sumatera. Kabar “kebangkitannya dari kematian” menjalar ke seluruh Sulawesi Selatan, menebar kecut di Gowa dan sukacita di Bone-Soppeng.
Bertahun-tahun sebelumnya, tanah Bugis di Bone dan Soppeng ditundukkan Gowa; keluarga Arung Palakka menjadi tawanan, dan ia sendiri konon dipaksa bekerja rodi. Pemberontakannya gagal, dan ia melarikan diri sampai ke Batavia, memohon bantuan kepada VOC. Kompeni butuh pasukan darat yang mengenal medan Sulawesi; Arung Palakka butuh armada dan meriam untuk membebaskan bangsanya. Dari perpaduan kepentingan itu lahir aliansi yang akhirnya meruntuhkan Makassar.
Pukulan pertama jatuh bahkan sebelum perang besar dimulai. Menjelang Natal 1666 armada membakar Bantaeng, lumbung padi Gowa; lalu di Buton, Januari 1667, Speelman dan Arung Palakka mendapati armada Gowa — 450 kapal dan sekitar 15.000 orang di bawah Karaeng Bontomarannu — sedang mengepung pulau itu. Dalam hitungan hari kekuatan besar itu runtuh: pada 4 Januari 1667 panglimanya menyerah, sekitar 5.000 orang Bugis yang dipaksa ikut berbalik bergabung dengan Arung Palakka, dan 5.500 tawanan lainnya ditinggalkan di sebuah pulau kecil yang dinamai Speelman “Pulau Penakluk” — sebagian besar dibiarkan mati di sana. Perang belum resmi menyentuh Makassar, tetapi kabar Buton sudah mengguncang istana Gowa.
Ketika Arung Palakka mendarat kembali di tanah leluhurnya, orang-orang Bugis Bone dan Soppeng bangkit memberontak melawan tuan Makassar mereka. Sementara Speelman menekan dari laut dengan kapal-kapal bermeriam, Arung Palakka memimpin “kampanye darat yang sukar” — pertempuran demi pertempuran di rawa, sawah, dan bukit Sulawesi Selatan. Gowa melawan dengan gigih; Laksamana Speelman sendiri mengakui betapa sengit orang Makassar bertempur — pada Agustus 1667 sekitar 30.000 pasukan Makassar menghadang 10.000 pasukan sekutu di sekitar Galesong, dan penyakit sempat menyisakan hampir hanya 250 serdadu Belanda yang mampu memanggul senjata.
Pada November 1667, di kampung Bongaya, Hasanuddin dipaksa menandatangani perjanjian yang merampas hampir segalanya: monopoli dagang untuk VOC, wilayah taklukan yang dilepaskan, benteng-benteng yang dirobohkan. Perundingannya sendiri berlangsung dalam bahasa Portugis — Speelman berhadapan dengan Karaeng Karunrung, mangkubumi garis keras yang paling fasih berbahasa itu. Tetapi damai itu rapuh sejak lahir: kedua pihak menandatanganinya dengan pemahaman yang berbeda tentang apa arti sebuah “perjanjian”, dan pada malam 13 April 1668 perang menyala lagi — kapal-kapal Belanda kembali membombardir Somba Opu setelah Speelman menilai damai telah dirusak “muslihat Karunrung”, sementara bagi Gowa justru tuntutan VOC yang tak habis-habisnya itulah pengkhianatan atas damai. Wabah sampar (April–Juli 1668) lalu menggerogoti kedua kubu — ratusan serdadu Belanda mati, separuh pasukan Bugis terbaring sakit, dan di dalam Somba Opu tujuh puluhan jenazah dikubur setiap hari — tetapi tekanan tak surut.
Akhir itu datang pada Juni 1669, dan datang dengan tipu daya: Speelman menggelar pesta besar dua hari untuk para bangsawan sekutu — kamuflase bagi terowongan rahasia yang sedang diisi mesiu di bawah dinding Somba Opu. Pada 14 Juni petang ledakan merobek celah selebar hampir 28 meter di dinding bata merah setebal tiga setengah meter. Yang menyusul adalah malam yang oleh Speelman disebut “pertempuran terberat yang pernah kami alami”: 5–6 ribu pon mesiu dan 30.000 peluru musket dimuntahkan dalam semalam, dan Somba Opu tetap bertahan. Hujan turun enam hari. Baru pada malam 22 Juni Arung Palakka memimpin pasukan Bugis, Bacan, dan Ambon menerobos celah itu. Benteng kebanggaan Gowa terbakar dan jatuh; dalam kemunduran, para pembela melemparkan meriam pusaka “Anak Mangkasar” dari atas bastion agar tak jatuh ke tangan musuh. Lima hari sebelum kejatuhan itu, Hasanuddin telah turun takhta demi putranya — menolak dikenang sebagai raja yang memimpin kehancuran kerajaannya. Di reruntuhan, VOC mencatat 44 meriam dan ribuan peluru — saksi bisu betapa kuatnya kerajaan yang baru saja mereka patahkan.
Istilah & latar penting
- Kesultanan Gowa-Tallo (Makassar) — kerajaan kembar Makassar di Sulawesi Selatan yang, pada abad ke-17, menjadi pelabuhan dagang bebas terbesar dan terkuat di Nusantara timur, gerbang rempah dari Maluku. Sudah memeluk Islam sejak awal abad ke-17. “Makassar” merujuk baik pada kota/kerajaan maupun suku Makassar.
- VOC (Verenigde Oostindische Compagnie, “Kongsi Dagang Hindia Timur Bersatu”) — perusahaan dagang Belanda berhak-istimewa yang memiliki tentara, armada, dan kuasa membuat perjanjian serta perang; ujung tombak kolonialisme Belanda. Berpusat di Batavia (kini Jakarta).
- Bugis — suku besar Sulawesi Selatan (berbeda dari suku Makassar), dengan kerajaan-kerajaan seperti Bone dan Soppeng yang pernah ditundukkan Gowa. Rivalitas Bugis–Makassar inilah yang dimanfaatkan VOC.
- Arung Palakka — gelar “Arung” berarti raja/bangsawan; ia bangsawan Bone-Soppeng yang menjadi tokoh sentral aliansi anti-Gowa.
- Monopoli rempah — kebijakan VOC agar hanya Kompeni yang boleh membeli/menjual rempah (cengkih, pala) dengan harga yang ia tentukan. Makassar sebagai pelabuhan bebas mengancam monopoli ini, karena di sana pedagang mana pun bisa berdagang rempah selundupan dari Maluku.
- Benteng Somba Opu — benteng utama sekaligus kediaman Sultan Gowa, berdinding tanah-bata tebal di pesisir dekat Makassar; jatuhnya menandai berakhirnya perang.
- Mangkubumi / Tuma’bicara-butta — perdana menteri kerajaan; jabatan yang diserahkan kepada Karaeng Karunrung, tokoh garis keras Gowa, tiga hari sebelum perundingan Bongaya dibuka.
- Siri’ — konsep harga diri/martabat yang menjadi jantung budaya Bugis-Makassar. Andaya menempatkannya sebagai kunci perang ini: bagi Bugis Bone-Soppeng, perang melawan Gowa adalah jalan memulihkan siri’ yang terinjak sejak penaklukan 1660-an.
- Upe’ — “keberuntungan/berkah” yang diyakini melekat pada orang yang ditakdirkan besar. Kemunculan kembali Arung Palakka yang dikira sudah mati membuat orang Bugis meyakini ia ber-upe’ — keyakinan yang oleh Speelman sengaja dijaga (Arung Palakka diberi pengawal khusus) karena moral seluruh pasukan Bugis bergantung padanya.
Asal nama
“Perang Makassar” dinamai dari Makassar — nama kota, kerajaan Gowa-Tallo, sekaligus suku penghuninya — pihak yang menjadi sasaran penaklukan. Dalam bahasa Belanda ia disebut Makasar-oorlog atau Makassaarse Oorlog (“Perang Makassar”). Karena tulang punggung penaklukan adalah sekutu Bugis, sebagian penulis menyebutnya pula sebagai perang Gowa melawan VOC-Bone. Nama itu, seperti banyak perang kolonial, diambil dari pihak yang dikalahkan, bukan dari satu medan pertempuran tunggal.
Konteks & sebab
Sebab struktural — monopoli rempah vs pelabuhan bebas. Pada abad ke-17, VOC berusaha memonopoli perdagangan rempah dunia dari Maluku. Halangan terbesarnya adalah Makassar: pelabuhan Gowa yang menganut prinsip laut bebas (mare liberum), tempat pedagang Portugis, Inggris, Melayu, dan lain-lain membeli cengkih dan pala di luar kendali Belanda. Selama Makassar berdiri sebagai pasar bebas, monopoli VOC bocor. Menundukkan Gowa berarti mengunci seluruh perdagangan rempah timur Nusantara.
Sebab struktural — rivalitas Bugis–Makassar. Ekspansi Gowa telah menaklukkan banyak kerajaan Bugis, termasuk Bone dan Soppeng, menanam dendam yang dalam. Inilah “musuh dalam selimut” yang bisa dimanfaatkan pihak luar.
Sebab langsung — Arung Palakka dan VOC bertemu. Setelah pemberontakan Bugis gagal, Arung Palakka melarikan diri dan pada 1663 menetap di Batavia di bawah lindungan VOC. Kompeni menemukan sekutu yang sempurna: seorang panglima berwibawa yang bisa menggerakkan pasukan darat Bugis, sesuatu yang tidak dimiliki armada Belanda. Ketika VOC memutuskan menyerang Gowa (1666), Arung Palakka menjadi kunci rencana itu.
Bukan perang agama. Penting ditegaskan: Gowa dan Bone sama-sama kerajaan Muslim. Perang ini bukan jihad antaragama, melainkan perebutan kekuasaan, kendali dagang, dan pembalasan politik — dengan VOC (Kristen) sebagai kekuatan asing yang memanfaatkan keretakan di antara sesama Muslim Sulawesi. Karena itulah entri ini menandai tradisi_islam: false.

Pihak yang terlibat & jumlah pasukan
Perang ini bukan bentrokan dua tentara reguler berjumlah rapi, melainkan operasi gabungan armada VOC + pemberontakan Bugis melawan mobilisasi kerajaan Gowa yang bertahan di garis benteng. Angka pihak VOC tercatat lumayan (dari catatan Kompeni); angka pihak Gowa nyaris mustahil dipatok.
| Pihak | Komandan utama | Estimasi kekuatan | Catatan keandalan |
|---|---|---|---|
| Kesultanan Gowa-Tallo | Sultan Hasanuddin; Mangkubumi Karaeng Karunrung; pangeran Ternate Kaicil Kalamata | Tidak ada angka pasukan tetap yang tepercaya — mobilisasi kerajaan padat penduduk, armada perahu perang, dan benteng pesisir. Somba Opu menyimpan puluhan meriam besar | Rendah untuk angka pasukan. Yang andal: sifatnya — bertahan di garis benteng dengan artileri berat |
| VOC + sekutu Bugis (Bone-Soppeng), Ternate, Ambon | Laksamana Cornelis Speelman (laut); Arung Palakka (darat); Kapten Jonker | Armada awal (Nov 1666): ~1.860 orang (di antaranya 818 pelaut Belanda, 578 serdadu Belanda, 395 prajurit pribumi; sisanya perwira/awak lain) + perahu perang Ternate. Serbuan akhir Somba Opu (1669): ~2.000 Bugis, 572 pasukan bantu, 83 serdadu Belanda, 11 pelaut Belanda | Sedang untuk angka armada VOC (catatan Kompeni). Rendah untuk total pasukan Bugis (satu sumber menyebut 7.000–8.000 bala bantuan) |
Soal korban, arsip VOC (via Andaya) memberi angka yang jauh lebih granular daripada rangkuman tersier. Fase pertama (sampai Bongaya): Speelman melaporkan 80 Belanda tewas tempur — “meski jauh lebih banyak yang mati karena sakit” — dan pada kampanye Galesong (Agustus 1667) penyakit menyisakan hampir hanya ~250 serdadu Belanda yang mampu memanggul senjata. Wabah sampar April–Juli 1668: 100 Belanda mati pada Mei, 125 pada Juni, 135 pada Juli; 2.000 dari 4.000 Bugis di Makassar terbaring sakit; di dalam Somba Opu ~73 jenazah dikubur per hari dan di Tallo ~20. Korban tempur pihak Gowa nyaris tak tercatat andal, tetapi blokade dan kelaparan jelas mematikan — di Selayar separuh penduduk tewas kelaparan; orang memakan daun, batang pisang, dan biji mangga.
Tokoh kunci
- Sultan Hasanuddin (1631–1670). Sultan ke-16 Gowa (memerintah 1653–1669), lahir 12 Januari 1631 di Makassar. Belanda menjulukinya “de Haan van het Oosten” — “Ayam Jantan dari Timur” — karena keberaniannya yang agresif di medan perang. Ia menolak monopoli VOC dan bertempur mempertahankan kedaulatan Gowa. Lima hari sebelum Somba Opu jatuh ia turun takhta demi putranya I Mappasomba (“Sang Penakluk” — nama yang diharap membalikkan perang); menurut sumber lain, ia mundur agar tak dikenang sebagai raja yang memimpin kehancuran kerajaan yang pernah paling berjaya di Nusantara timur (Andaya: 134-135). Wafat pada 1670 dalam usia sekitar 39 tahun. Kini Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 6 November 1973).
- Arung Palakka (1634–1696). Bangsawan Bugis Bone-Soppeng, lahir 15 September 1634 di Soppeng. Setelah keluarganya menjadi tawanan Gowa dan pemberontakannya gagal, ia mengungsi ke Batavia (1663) dan bersekutu dengan VOC. Ia memimpin kampanye darat yang menentukan, lalu diangkat resmi sebagai Raja (Arung) Bone pada 1672, menjadi orang paling berkuasa di Sulawesi Selatan hingga wafatnya pada 1696. Sosok kontroversial: pahlawan pembebas bagi Bugis, tetapi bagi tradisi Makassar dikenang sebagai sekutu penjajah.
- Karaeng Karunrung. Mangkubumi (Tuma’bicara-butta) Gowa, putra cendekiawan Karaeng Pattingalloang; diangkat ke jabatan itu tiga hari sebelum perundingan Bongaya. Dialah yang merundingkan Bongaya berhadap-hadapan dengan Speelman dalam bahasa Portugis. Tokoh garis keras yang oleh para pengungsi Gowa disebut akhirnya memerintah sendirian bergelar “Raja Tua”; saat Somba Opu jatuh ia tetap bertahan di istana dikelilingi pengikut berkeris terhunus. Simbol perlawanan Gowa yang tak mau berdamai.
- Cornelis Speelman (1628–1684). Laksamana VOC pemimpin ekspedisi, lahir di Rotterdam. Keras, cakap, dan ambisius; kelak menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1681–1684) dan mempercepat perubahan kekuasaan VOC dari kongsi dagang menjadi kekuatan teritorial. Wafat di Batavia, 11 Januari 1684.
- Kaicil Kalamata. Pangeran Ternate yang berpihak pada Gowa, memperlihatkan bahwa aliansi di kawasan ini tidak selalu sederhana — Ternate juga mengirim kontingen ke pihak VOC.
- Kapten Jonker & Arung Belo Tosa’deng. Dua panglima sekutu di pihak VOC: Jonker memimpin kontingen Ambon, sementara Arung Belo Tosa’deng memimpin pasukan Bugis Bone bersama Arung Palakka — bukti bahwa beban tempur ditanggung terutama oleh pasukan pribumi sekutu, bukan serdadu Eropa.
Persenjataan & kendaraan perang
Pihak Gowa-Makassar.
- Meriam perunggu besar — Gowa dikenal punya artileri berat; di reruntuhan Somba Opu ditemukan 33 meriam berbobot total ~46.000 pon (~21.000 kg), sebelas lagi ~24.000 pon (~11.000 kg), plus 145 pucuk senjata kecil. Ini bukti kerajaan yang secara teknologi mesiu sudah maju untuk ukuran Nusantara.
- Benteng tanah-bata (Somba Opu, Ujung Pandang, dll.) — deretan benteng pesisir berdinding tebal yang menyerap tembakan meriam dan memaksa pengepungan panjang.
- Badik, keris, tombak, sundang — senjata jarak dekat khas Sulawesi Selatan; badik (belati) dan keris untuk pertarungan rapat yang mematikan, ditopang perisai kayu-rotan dan sebagian senapan sundut.
- Perahu perang (pinisi, padewakang) — armada layar Makassar yang lincah untuk perang dan dagang di Selat Makassar.

Pihak VOC + sekutu.
- Kapal layar Eropa bermeriam samping — memberi VOC penguasaan laut (command of the sea): mengangkut pasukan, memblokade pantai, dan menembaki benteng dari air.
- Musket sundut dan disiplin tembakan — infanteri Kompeni memberikan volume tembakan terorganisasi.
- Pasukan darat Bugis Arung Palakka — “senjata” terpenting VOC: massa pejuang yang mengenal medan, bermotivasi dendam, dan sanggup memikul pertempuran darat yang tak mampu ditanggung serdadu Eropa yang sedikit dan rentan penyakit.
- Teknik penyapuan/peledakan dinding (sapping) — pada serbuan akhir, penyerang menggali terowongan rahasia (disamarkan dengan pesta dua hari untuk para bangsawan sekutu), mengisinya dengan mesiu, dan meledakkan dinding Somba Opu — membuka celah selebar hampir 28 meter pada dinding bata setebal 3,5 meter. Dalam satu malam pertempuran di celah itu VOC menghabiskan 5–6 ribu pon mesiu, ~30.000 peluru musket, 200 pot api, dan puluhan granat mortir (Andaya: 131-132).
Linimasa
- Latar
Gowa-Makassar jadi pelabuhan bebas terkuat Nusantara timur — mengancam monopoli rempah VOC
- 1663
Arung Palakka mengungsi ke Batavia, bersekutu dengan VOC melawan Gowa
- 24 Nov 1666
Armada Speelman (~1.870 orang, 21 kapal) berangkat dari Batavia
- Des 1666
Bantaeng, lumbung padi Gowa, dibakar armada menjelang Natal
- 4 Jan 1667
Armada Gowa (450 kapal, ~15.000 orang) menyerah di Buton; 5.000 Bugis berbalik ikut Arung Palakka
- 1667
Arung Palakka mendarat; Bugis Bone-Soppeng memberontak; perang darat & laut berkobar
- 18 Nov 1667titik balik
Perjanjian Bongaya diteken — dua pihak, dua tafsir; damai rapuh sejak lahir
- 13 Apr 1668
Perang menyala lagi — Belanda membombardir Somba Opu; Bugis menyerang Kampung Melayu
- Apr–Jul 1668
Wabah sampar menggerus dua kubu (360 Belanda mati; separuh Bugis sakit; Somba Opu ~73 jenazah/hari)
- 12 Okt 1668
Aliansi VOC-Bugis mengalahkan Gowa dalam pertempuran besar di Makassar
- 14 Jun 1669puncak
Terowongan mesiu diledakkan — celah ~28 m di dinding Somba Opu; malam pertempuran terberat
- 22–24 Jun 1669
Arung Palakka menerobos celah; Somba Opu jatuh & terbakar; Hasanuddin telah turun takhta
- 20 Des 1669
Perjanjian damai final diteken di Batavia; Gowa takluk penuh
- Sesudahnya
Bone (Arung Palakka) menggantikan Gowa; VOC bangun Benteng Rotterdam; diaspora Makassar
Strategi & taktik

- Aliansi dengan musuh dalam lawan (Arung Palakka). Inti kemenangan VOC adalah memecah-belah dan menguasai (divide et impera): mengubah dendam Bugis yang telah ditaklukkan Gowa menjadi pasukan darat. Ini contoh klasik pendekatan tak-langsung (indirect approach) — menyerang kohesi politik lawan, bukan sekadar bentengnya.
- Operasi gabungan darat-laut (combined operations). Speelman memegang laut (blokade, pengeboman pantai, pengangkutan pasukan), Arung Palakka memegang darat. Pembagian kerja ini menutup kelemahan masing-masing: armada VOC tak punya cukup infanteri, Bugis tak punya armada bermeriam.
- Penguasaan laut (command of the sea). Dengan mengunci Selat Makassar, VOC memutus pasokan dan sekutu maritim Gowa, sekaligus mencekik pelabuhan bebas yang menjadi sumber kekuatan ekonominya.
- Perang benteng & penyapuan (siege & sapping). Ketika benteng tak bisa ditembus dari luar, penyerang menggali dan meledakkan dinding Somba Opu untuk membuka celah — taktik pengepungan mesiu yang khas.
- Perjanjian sebagai senjata (Bongaya). VOC memakai perjanjian bukan sekadar untuk berdamai, tetapi untuk melucuti lawan secara hukum: merobohkan benteng, melepas wilayah, dan memasang monopoli — melemahkan Gowa sebelum pukulan terakhir.
- Perlawanan garis keras Gowa. Di pihak Gowa, Karaeng Karunrung mewakili strategi pantang menyerah; pembatalan Bongaya oleh Hasanuddin adalah taruhan bahwa Gowa masih bisa bertahan — taruhan yang gagal karena keunggulan laut dan aliansi darat lawan sudah terlalu besar.
Diagram manuver
Jalannya peperangan
Fase 1 — Ekspedisi & pemberontakan (1666–1667). Armada Speelman berangkat 24 November 1666, membakar Bantaeng menjelang Natal, lalu menghancurkan ekspedisi Gowa di Buton (menyerah 4 Januari 1667): 5.000 Bugis paksaan berbalik memihak Arung Palakka, 5.500 tawanan lain ditinggalkan di “Pulau Penakluk”. Setelah armada kembali dari Maluku (pertengahan 1667), perang penuh pecah: Bantaeng direbut 7 Juli, pemberontakan Bugis Bone-Soppeng menjalar, dan pada Agustus pasukan gabungan (~10.000, di antaranya 7.000 Bugis) menghadapi ~30.000 pasukan Makassar di Galesong. Pada 26 Oktober pertahanan luar Makassar tertembus sampai ke tembok Somba Opu — momen yang dipakai membuka tawaran damai.
Fase 2 — Perjanjian Bongaya dan perang yang belum selesai (1667–1668). Tertekan, Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 — 29 pasal yang melucuti Gowa (26 tuntutan awal + 3 tambahan, termasuk denda perang 250.000 rijksdaalder dicicil lima musim), dirundingkan dalam bahasa Portugis dan disumpah di atas Quran dan Alkitab. Damai itu tak berumur: kedua pihak memahaminya secara berbeda — bagi VOC, kontrak hukum yang setiap pasalnya mengikat; bagi Gowa, pernyataan hubungan antarnegara yang tuntutan turunannya bisa dirundingkan ulang. Pada malam 13 April 1668 Belanda kembali membombardir Somba Opu dan perang menyala lagi. Sepanjang 1668 pertempuran berayun (Maros dan Siang direbut Bugis pada Agustus; Gowa sempat merebut kembali wilayah utara pada November); pada 12 Oktober 1668 aliansi memenangkan pertempuran besar — dibayar gugurnya Arung Belo Tosa’deng. Di sela itu, wabah sampar (April–Juli 1668) menggerus kedua kubu.
Fase 3 — Pengepungan dan jatuhnya Somba Opu (1669). Aliansi memusatkan tenaga pada benteng utama Gowa. Serbuan pamungkas dibuka 14 Juni 1669 sekitar pukul 18.00 dengan ledakan terowongan mesiu yang merobek celah ~28 m di dinding; malam-malam berikutnya menjadi pertempuran paling brutal sepanjang perang (“pertempuran terberat yang pernah kami alami” — Speelman), dengan pihak bertahan melempari celah memakai batu, api, panah, dan sumpit beracun. Hujan enam hari menghentikan serbuan; baru pada malam 22 Juni Arung Palakka memimpin pasukan Bugis, Bacan, dan Ambon menerobos celah. Somba Opu jatuh dan terbakar (dituntaskan sekitar 24 Juni 1669); Hasanuddin — yang telah turun takhta lima hari sebelumnya — mengungsi ke Gowa. Di reruntuhan tercatat 44 meriam (33 seberat total ~46.000 pon + 11 seberat ~24.000 pon), 145 senjata kecil, dan 8.483 peluru.

Fase 4 — Penyerahan dan penataan ulang (1669–1672). Perjanjian damai final diteken di Batavia, 20 Desember 1669. VOC menghancurkan Somba Opu dan menjadikan bekas Benteng Ujung Pandang sebagai markasnya, membangunnya kembali dan menamainya Benteng Rotterdam (dari kota kelahiran Speelman). Arung Palakka naik sebagai penguasa dominan, diresmikan sebagai Raja Bone pada 1672.
Sudut pandang para pihak
Dari kacamata Gowa-Makassar. Ini adalah perang mempertahankan kedaulatan dan kehormatan kerajaan maritim yang bangga, serta prinsip laut dan dagang bebas melawan monopoli asing yang serakah. Menyerah pada monopoli VOC berarti mematikan urat nadi ekonomi Makassar. Dalam tradisi perjanjian Sulawesi Selatan yang direkam Andaya, Bongaya adalah ceppa’ — pernyataan hubungan antarnegara — bukan kontrak dagang yang tiap pasalnya dieksekusi harfiah; ketika tuntutan VOC terus mengalir setelah tanda tangan, para pemimpin Gowa merasa damai itu dikhianati dan perang yang “dihentikan secara prematur” wajar dilanjutkan. Hasanuddin, “Ayam Jantan dari Timur”, memilih melawan sampai bentengnya runtuh. Bagi tradisi Makassar, Arung Palakka dikenang sebagai sekutu penjajah yang membawa kehancuran atas bangsanya sendiri.
Dari kacamata VOC/Belanda. Bagi Kompeni, Makassar adalah kebocoran yang harus ditutup: selama pelabuhan bebas Gowa berdiri, monopoli rempah — sumber laba VOC — tak pernah aman. Menaklukkan Gowa adalah langkah dagang sekaligus strategis untuk menguasai Nusantara timur. Speelman memandangnya sebagai operasi militer yang harus dimenangkan dengan aliansi cerdik dan tekanan tanpa henti; ia bahkan mengakui keberanian lawannya.
Dari kacamata Arung Palakka dan Bugis Bone-Soppeng. Ini adalah perang pembebasan sekaligus pemulihan siri’ — harga diri yang terinjak sejak Gowa menundukkan Bone dan Soppeng. Aliansi dengan VOC bukan pengkhianatan, melainkan satu-satunya jalan realistis untuk menumbangkan hegemoni Gowa yang jauh lebih kuat. Andaya merekam betapa personal perang ini bagi orang Bugis: di pantai Buton, para prajurit Bugis paksaan menangis dan menari aru dengan keris terhunus begitu melihat Arung Palakka yang mereka kira telah mati; kronik Bone menyebut kemenangan ini mustahil tanpa upe’-nya. Bagi Bugis, Arung Palakka adalah pahlawan pembebas yang mengangkat Bone ke puncak kekuasaan Sulawesi Selatan.
Sudut pandang militer netral
Dari kacamata ilmu militer, Perang Makassar adalah studi kasus klasik tentang perang aliansi dan pendekatan tak-langsung: bagaimana kekuatan yang secara armada unggul (VOC) mengalahkan kerajaan darat yang padat penduduk (Gowa) bukan dengan menghancurkannya sendirian, melainkan dengan mengubah keretakan politik internal kawasan menjadi tenaga tempur.
Kekuatan Gowa terletak pada benteng-benteng kokoh, artileri berat, dan mobilisasi penduduk yang besar. Kelemahan fatalnya adalah politik: ekspansinya telah menciptakan musuh-musuh Bugis yang pahit (Bone, Soppeng) — sebuah titik berat (center of gravity) yang rapuh. VOC, yang kekurangan infanteri untuk perang darat berkepanjangan di iklim tropis yang mematikan (wabah 1668 nyaris melumpuhkan mereka), justru menjadikan kelemahan politik Gowa sebagai kekuatan utamanya lewat Arung Palakka. Ini pelaksanaan operasi gabungan yang efektif: laut dikuasai VOC, darat dipikul Bugis.
Kesalahan strategis Gowa bukan pada keberanian, melainkan pada kalkulasi keseimbangan kekuatan setelah Bongaya. Membatalkan perjanjian adalah pertaruhan bahwa Gowa masih bisa bertahan — padahal keunggulan laut lawan dan barisan darat Bugis sudah terlampau besar. Dari sudut militer, sekali sebuah pihak kehilangan penguasaan laut sekaligus menghadapi pemberontakan darat masif, melawan sampai bentengnya diledakkan cenderung memperbesar kehancuran ketimbang memperkecilnya. Sebaliknya, kejeniusan aliansi VOC–Arung Palakka justru mengonfirmasi doktrin abadi: musuh dikalahkan paling murah ketika perpecahan di barisannya sendiri dijadikan senjata.
Hasil & dampak
Pemenang: Aliansi VOC–Bone (Arung Palakka). Gowa takluk; Somba Opu hancur; monopoli rempah VOC di Nusantara timur terkunci.
Nasib pihak yang menang. VOC memperoleh kendali dagang dan pangkalan permanen di Sulawesi Selatan — Benteng Rotterdam menjadi pusat kekuasaannya di Sulawesi selama berabad-abad, dan penaklukan ini menjadi tonggak perubahan VOC dari kongsi dagang menjadi kekuatan teritorial. Cornelis Speelman menanjak kariernya hingga menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1681–1684), wafat di Batavia 1684. Arung Palakka menjadi orang paling berkuasa di Sulawesi Selatan, diresmikan sebagai Raja Bone (1672); Bone menggantikan Gowa sebagai kerajaan dominan, dan ia berkuasa dengan tangan besi sampai wafatnya 1696.
Nasib pihak yang kalah. Gowa kehilangan wilayah taklukan, monopoli dagang, benteng-benteng, dan kedaulatannya lewat Perjanjian Bongaya; ia menyusut dari kekuatan besar menjadi kerajaan bawahan. Sultan Hasanuddin turun takhta setelah kekalahan (1669) dan wafat pada 1670 dalam usia muda; ia kelak diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Kubu garis keras seperti Karaeng Karunrung menolak tunduk sampai akhir. Banyak bangsawan dan pelaut Makassar — di antaranya Karaeng Galesong — memilih tak menyerah dan berlayar keluar Sulawesi, memicu diaspora Makassar yang menyebar ke seluruh Nusantara (Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Siam) sebagai pelaut, pedagang, dan tentara bayaran yang ditakuti.
Dampak jangka panjang. Perang Makassar menandai runtuhnya kekuatan maritim besar terakhir yang menantang monopoli VOC di timur Nusantara, mengunci dominasi Belanda atas jalur rempah, mengangkat Bone ke puncak Sulawesi Selatan selama sisa era kolonial, dan menaburkan diaspora Makassar-Bugis yang mengubah wajah kepelautan Nusantara. Ia juga meninggalkan memori yang terbelah: kepahlawanan Hasanuddin dan kontroversi Arung Palakka masih diperdebatkan di Sulawesi Selatan sampai hari ini.

Pelajaran
Pelajaran strategis:
- Perpecahan internal adalah kerentanan strategis terbesar. Gowa runtuh bukan karena bentengnya lemah, tetapi karena musuh-musuh Bugis yang diciptakannya sendiri diubah menjadi pasukan lawan. Kekuatan sejati sebuah kerajaan bukan pada tinggi bentengnya, melainkan pada sekutu yang tak sempat ia rangkul dan musuh dalam yang tak sempat ia damaikan.
- Aliansi bisa mengalahkan keunggulan materiil. VOC sendirian tak sanggup memikul perang darat tropis; ia menang dengan meminjam tenaga Bugis. Menggabungkan kekuatan yang saling menutup kelemahan lebih ampuh daripada mengandalkan satu keunggulan.
- Tahu kapan berdamai sama pentingnya dengan tahu kapan melawan. Pembatalan Bongaya oleh Hasanuddin, betapapun terhormat, memperbesar kehancuran karena keseimbangan kekuatan sudah berbalik. Keberanian tanpa kalkulasi bisa mempercepat kejatuhan.
- Kuasai simpul, bukan sekadar wilayah. VOC tak perlu menduduki seluruh Sulawesi; ia cukup menguasai laut dan simpul dagang, lalu memasang monopoli lewat perjanjian. Menguasai titik kritis lebih murah daripada menguasai segalanya.
Pelajaran untuk medan tempur kehidupan:
- Rawat hubungan sebelum krisis datang. Seperti Gowa yang bentengnya kokoh tetapi sekutunya kosong, kita bisa kuat secara sumber daya namun rapuh secara relasi. Dalam karier dan bisnis, modal sosial dan kesetiaan yang dirawat sejak damai sering menentukan siapa yang selamat saat badai tiba.
- Cara kita memperlakukan yang lemah menentukan kekuatan kita kelak. Penindasan Gowa atas Bone melahirkan Arung Palakka. Menang dengan menghinakan pihak lain menanam benih perlawanan; menang dengan merangkul menutup pintu dendam.
- Waspadai biaya sesungguhnya dari konflik berlarut. Wabah menewaskan penyerang lebih banyak daripada pedang. Setiap “perang” hidup — persaingan, ambisi, permusuhan — punya ongkos tersembunyi yang menggerus bahkan pihak yang akhirnya menang.
- Integritas dalam menilai pilihan sulit. Arung Palakka bisa dibaca sebagai pahlawan atau pengkhianat, tergantung dari mana kita berdiri. Pelajaran dewasanya: keputusan besar jarang hitam-putih; menimbang loyalitas, keadilan, dan kelangsungan hidup menuntut kejujuran, bukan slogan.
Sumber & bacaan lanjutan
Otoritas ilmiah utama (pemutakhiran 12 Juli 2026):
- Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century (Nijhoff/KITLV, VKI 91, 1981) (PDF akses terbuka, Library of Congress: Bab III “The Makassar War” hlm. 73–99, Bab IV “The Treaty” hlm. 100–116, Bab V “The Unfinished War” hlm. 117–136, plus Lampiran B teks Perjanjian Bungaya). [Kajian standar topik ini, dibangun dari arsip VOC (Koloniaal Archief), kronik lontara’ Bugis-Makassar, dan historiografi Belanda (Stapel 1922). KINI dasar utama angka & kronologi entri ini: armada ~1.870 orang (818+578+395), kehancuran armada Gowa di Buton (4 Jan 1667), 26+3 pasal Bongaya dan perundingan berbahasa Portugis, wabah 1668 (100/125/135 kematian Belanda per bulan; ~73 pemakaman/hari di Somba Opu), serta detik-detik jatuhnya Somba Opu (ledakan 14 Juni, celah ~28 m, terobosan 22 Juni 1669) dan arsenal 44 meriam.]
Rujukan tersier (kerangka awal; sebagian angkanya kini dikoreksi oleh Andaya):
- “Makassar War”, Wikipedia (Inggris) (akses terbuka). [Kerangka awal entri ini. Dua angkanya dikoreksi terhadap Andaya: total armada ~1.870 (bukan ~1.860) dan angka kematian wabah “2.360–4.360” tak terkonfirmasi arsip; sisanya (tanggal, komposisi serbuan, 33 meriam) cocok.]
- “Hasanuddin of Gowa”, Wikipedia (Inggris) (akses terbuka). [Tanggal hidup Hasanuddin (1631–1670), julukan “Rooster of the East”, jalannya perlawanan, dan pengepungan 2,5 tahun. Catatan: badan artikel ini memuat inkonsistensi tanggal (menyebut “12 Juni 1669” sebagai jatuhnya kota sekaligus wafatnya sultan) yang bertabrakan dengan tahun wafat 1670 — inkonsistensi ini saya tandai, bukan saya teruskan mentah.]
- “Arung Palakka”, Wikipedia (Inggris) (akses terbuka). [Biografi (1634–1696), pembuangan ke Batavia 1663, kampanye darat, dan pengangkatan sebagai Raja Bone 1672.]
- “Perjanjian Bungaya”, Wikipedia (Indonesia) (akses terbuka). [Pasal-pasal Perjanjian Bongaya 18 November 1667: monopoli dagang VOC, pelepasan wilayah Bugis/Luwu dan Sulawesi timur, perobohan benteng pesisir, penyerahan Benteng Ujung Pandang, dan ganti rugi.]
- “Cornelis Speelman”, Wikipedia (Inggris) (akses terbuka). [Lahir di Rotterdam 1628, Gubernur Jenderal 1681–1684, wafat di Batavia 11 Januari 1684.]
Otoritas ilmiah lain:
- “Reinterpreting historical traces: the socio-political dynamics of Bugis–Makassar society after the 17th-century Bungaya Treaty”, Cogent Arts & Humanities (Taylor & Francis, 2025) (doi:10.1080/23311983.2025.2604957; jurnal peer-review). [Dirujuk sebagai kajian mutakhir dampak sosial-politik Perjanjian Bongaya, bukan dasar angka.]
Lintas-verifikasi angka: angka-angka inti kini bersandar pada Andaya (arsip VOC), dan sebagian besar cocok dengan rangkuman tersier: susunan armada Speelman (Andaya: ~1.870 orang — Wikipedia menulis ~1.860 — di antaranya 818 pelaut + 578 serdadu + 395 prajurit pribumi; komponen tak menjumlah persis ke total karena sisanya perwira/awak lain), lebar celah dinding Somba Opu (Andaya: ~27¾ m ≈ angka “27,5 m” versi tersier), rentang tanggal perang (24 Nov 1666 – 24 Jun 1669), komposisi serbuan akhir (2.000 Bugis + 572 lainnya termasuk 83 serdadu + 11 pelaut Belanda — persis sama di Andaya dan Wikipedia), dan pasal-pasal Bongaya. Yang TIDAK terkonfirmasi di Andaya dan kini ditinggalkan: angka kematian wabah “2.360–4.360” (Andaya memberi hitungan bulanan yang jauh lebih kecil untuk Belanda plus angka sakit, bukan mati, untuk Bugis) dan tanggal “12 Juni 1669”.
Tag
- Aliansi
- Memecah belah lawan
- Biaya perang panjang
- Kepemimpinan
- Kesetiaan dan pengkhianatan
- Monopoli vs perdagangan bebas
- Aliansi
- Penguasaan laut
- Logistik
- Moril
- Intelijen
- Pendekatan tak langsung
- Konsentrasi kekuatan
- Pengepungan
- Blokade laut
- Operasi gabungan darat laut
- Aliansi pribumi
- Perang benteng
- Penyapuan dan peledakan dinding
- Memecah belah lawan