- Mesiu Awal (abad ke-17)
- Kesultanan Gowa-Tallo (Makassar)
Sultan Hasanuddin
“Ayam Jantan dari Timur (Belanda—de Haan van het Oosten)”
Sultan ke-16 Gowa (memerintah 1653–1669) yang memimpin kerajaan maritim terbesar Nusantara timur melawan monopoli rempah VOC dalam Perang Makassar, hingga bentengnya diledakkan dan ia turun takhta pada 1669.

Daftar isi
Lembar Data
| Julukan | Ayam Jantan dari Timur (Belanda—de Haan van het Oosten) |
|---|---|
| Pihak | Kesultanan Gowa-Tallo (Makassar) |
| Era | Mesiu Awal (abad ke-17) |
| Hidup | 1631–1670 M |
| Kawasan | Sulawesi Selatan (Makassar, Gowa-Tallo) |
| Peran | Sultan ke-16 Gowa & panglima perlawanan maritim melawan VOC |
| Keandalan sumber | Tinggi |
Sultan Hasanuddin (1631–1670)
Ringkasan singkat
Sultan Hasanuddin — nama kecilnya I Mallombasi Daeng Mattawang Muhammad Baqir Karaeng Bonto Mangngape, gelar anumerta Tumenanga ri Balla Pangkana (“yang mangkat di istananya sendiri”) — adalah sultan ke-16 Kesultanan Gowa (memerintah 1653–1669), penguasa kerajaan maritim terbesar dan terakhir di Nusantara timur yang belum tunduk pada Belanda. Ia memimpin Gowa-Tallo dalam Perang Makassar 1666–1669 melawan Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) yang hendak memaksakan monopoli rempah. Keberaniannya yang agresif membuat Belanda menjulukinya “de Haan van het Oosten” — “Ayam Jantan dari Timur”. Perlawanannya patah oleh aliansi VOC dengan panglima Bugis buangan Arung Palakka: setelah Perjanjian Bongaya (1667) yang ia batalkan sendiri, benteng kebanggaan Gowa Somba Opu diledakkan dan direbut pada Juni 1669, dan Hasanuddin turun takhta demi putranya. Ia wafat pada 12 Juni 1670 dalam usia sekitar 39 tahun, dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 1973. Kerangka hidupnya terdokumentasi baik lewat arsip VOC yang disarikan Leonard Andaya; sejumlah detail (terutama tanggal pasti turun takhta) berbeda antar sumber dan diberi label keandalan di bawah.
Latar & masa muda
Hasanuddin lahir di Makassar pada 12 Januari 1631 [keandalan: tinggi — Wikipedia dari sumber Gowa; tanggal ini juga dipakai lembaga bahasa pemerintah], putra kedua Sultan Malikussaid, sultan ke-15 Gowa (memerintah 1639–1653), dari permaisuri I Sabbe To’mo Daeng Takontu [keandalan silsilah: sedang — sumber sekunder]. Ia besar di lingkungan istana Kesultanan Gowa-Tallo, kongsi kembar dua kerajaan Makassar yang sejak awal abad ke-17 menjadi bandar entrepôt paling ramai di Nusantara timur — tempat rempah dari Maluku, kain India, dan pedagang dari seluruh Asia bertemu.
Yang mewarisi Hasanuddin bukan sekadar takhta, melainkan sebuah doktrin laut bebas. Kakeknya, Sultan Alauddin (I Mangngarangi Daeng Manrabbia, sultan ke-14 dan raja Gowa pertama yang memeluk Islam sekitar 1605), pada 1615 menolak tuntutan VOC untuk memonopoli pelayaran dengan pernyataan yang kelak menjadi termasyhur: “Tuhan menciptakan bumi dan laut; bumi Ia bagikan di antara manusia dan laut Ia jadikan milik bersama.” [keandalan: tinggi untuk keberadaan & atribusi — Khalilieh, Islamic Law of the Sea (Cambridge, 2019); catatan penting: ucapan ini milik sang KAKEK, Alauddin, BUKAN Hasanuddin — sering keliru dinisbahkan kepadanya]. Prinsip inilah — bahwa laut dan dagang harus terbuka — yang setengah abad kemudian dipertahankan Hasanuddin dengan senjata.
Naik ke pucuk komando
Malikussaid wafat pada 15 November 1653; Hasanuddin naik takhta sebagai Sombaya ri Gowa XVI pada tahun itu juga [keandalan: tinggi — Wikipedia]. Ketika ia memerintah, hampir seluruh Nusantara timur telah masuk cengkeraman VOC; Gowa adalah satu-satunya kerajaan besar di kawasan itu yang belum ditaklukkan, dan Makassar telah menjadi pelabuhan bebas tempat pedagang Portugis, Inggris, Denmark, dan Melayu berdagang rempah di luar kendali Kompeni — tepat hal yang paling ingin dihabisi VOC.
Warisan yang diterima Hasanuddin juga sarat bara: hegemoni Gowa atas kerajaan Bugis — terutama Bone dan Soppeng — yang ditundukkan pada generasi sebelumnya. Pada 1660 Bone memberontak; salah satu pemimpinnya adalah bangsawan muda Arung Palakka, bersama wali negeri Tobala’ [keandalan: tinggi — Wikipedia/Andaya]. Gowa menumpas pemberontakan itu; Arung Palakka melarikan diri dari Sulawesi Selatan dan pada 1663 berlindung ke Batavia, jantung kekuasaan VOC. Keputusan Gowa menaklukkan lalu tak pernah mendamaikan Bugis inilah yang kelak menjadi celah paling fatal dalam pertahanan Hasanuddin: musuh dalam yang ia kalahkan tidak lenyap, ia hanya pindah ke kubu lawan.
Kampanye-kampanye utama
Ketegangan yang meningkat (1654–1660)
Bentrokan Gowa–VOC sudah menyala jauh sebelum perang besar. Belanda memblokade pelabuhan Makassar pada 1654–1655; sebuah perjanjian ditandatangani 2 Februari 1656, tetapi tak menyelesaikan akar soal — monopoli rempah [keandalan: tinggi — Wikipedia]. Pada 27 April 1659 VOC kembali mengajukan tuntutan agar Gowa menutup pelabuhannya bagi pesaing Belanda; pada 1660 Belanda merebut kubu Panakkukang di pesisir Makassar [keandalan: tinggi]. Gowa di bawah Hasanuddin tetap menolak tunduk: bagi Makassar, menutup laut bagi pedagang lain sama dengan mematikan urat nadi kerajaan.
Perang Makassar: armada Speelman & kembalinya Arung Palakka (1666–1667)
Perang menentukan dihitung dari keberangkatan armada Laksamana Cornelis Speelman dari Batavia pada 24 November 1666, membawa serta Arung Palakka dan pasukan Bugis buangannya. Kehadiran Arung Palakka adalah inti rencana VOC: kemunculannya memantik pemberontakan baru di kalangan Bugis yang membenci kekuasaan Gowa, sehingga beban perang bergeser dari pundak Belanda ke pundak sesama orang Sulawesi Selatan [keandalan: tinggi — Wikipedia/Andaya]. Tertekan di darat oleh Bugis dan di laut oleh meriam kapal Eropa, Hasanuddin akhirnya dipaksa ke meja runding.

Perjanjian Bongaya dan pembatalannya (1667–1668)
Pada 18 November 1667, di kampung Bongaya, Hasanuddin menandatangani perjanjian yang melucuti Gowa nyaris habis: monopoli dagang bagi VOC, wilayah taklukan yang dilepaskan, benteng-benteng yang dirobohkan, dan denda perang yang berat [keandalan: tinggi — tanggal & pasal diverifikasi di entri Perang Makassar dari Andaya]. Tetapi damai itu rapuh sejak lahir: kedua pihak memahaminya secara berbeda, dan Hasanuddin membatalkannya dalam hitungan bulan [keandalan: tinggi — Wikipedia: ia “abrogated it within a few months”]. Pada malam 13 April 1668 perang menyala lagi; sepanjang tahun itu pertempuran berayun sementara wabah sampar menggerus kedua kubu.
Jatuhnya Somba Opu & turun takhta (1669)
Aliansi VOC–Bone memusatkan tenaga pada benteng utama Gowa, Somba Opu. Pada 14 Juni 1669 ledakan terowongan mesiu merobek celah selebar hampir 28 meter di dinding bata merah setebal tiga setengah meter; setelah malam-malam pertempuran paling brutal sepanjang perang, benteng itu jatuh dan terbakar sekitar 24 Juni 1669. Menolak dikenang sebagai raja yang memimpin kehancuran kerajaannya, Hasanuddin turun takhta demi putranya I Mappasomba Daeng Nguraga (Sultan Amir Hamzah) [keandalan turun-takhta: tinggi; tanggal pastinya diperdebatkan — sebagian sumber menyebut 29 Juni 1669, sedangkan Andaya (yang dipakai entri perang situs ini) menempatkannya beberapa hari sebelum kejatuhan benteng]. Di puing Somba Opu, VOC mendirikan Benteng Rotterdam; Makassar berubah menjadi negara boneka dan Bone menggantikan Gowa sebagai penguasa Sulawesi Selatan.
Ciri khas kepemimpinan

- Panglima yang memimpin dari depan. Julukan “Ayam Jantan dari Timur” lahir dari reputasinya sebagai raja yang agresif dan pantang mundur di medan perang [keandalan: tinggi — julukan Belanda terdokumentasi]. Ia bukan raja yang berperang lewat utusan; keteguhannya menolak menyerah pada monopoli VOC menjadikannya simbol perlawanan.
- Pembela prinsip laut & dagang bebas. Kepemimpinan Hasanuddin berdiri di atas doktrin Gowa yang diwarisi dari kakeknya: laut adalah milik bersama, dan memaksakan monopoli adalah pelanggaran. Ini bukan sekadar soal ekonomi baginya, melainkan kedaulatan dan kehormatan kerajaan maritim.
- Bertumpu pada benteng & armada, bukan diplomasi pemecah-belah. Kekuatan Gowa terletak pada garis benteng pesisir berartileri berat (Somba Opu, Ujung Pandang) dan mobilisasi maritim yang padat. Tetapi ia berperang dengan mengandalkan pertahanan keras, sementara lawannya menang justru dengan merangkul musuh-musuh dalam Gowa — kelemahan strategis yang menentukan.
Kelemahan & kontroversi
- Musuh dalam yang tak sempat didamaikan. Kekalahan Gowa bukan semata soal meriam Eropa, melainkan hegemoni Gowa atas Bugis yang menumpuk dendam. Dengan menaklukkan lalu terus menekan Bone dan Soppeng, Gowa menyediakan bagi VOC sekutu darat yang paling dibutuhkannya. Arung Palakka — yang dikalahkan Gowa pada 1660 — kembali sepuluh tahun kemudian sebagai algojo kerajaan itu.
- Bertaruh pada pembatalan Bongaya. Membatalkan perjanjian 1667 adalah taruhan bahwa Gowa masih bisa bertahan; taruhan itu gagal karena keunggulan laut dan aliansi darat lawan sudah terlalu besar. Dari sudut pandang lain, tunduk penuh pada Bongaya pun berarti kematian ekonomi Makassar — sehingga banyak sejarawan membacanya sebagai pilihan tragis, bukan sekadar kesalahan.
- Sumber angka dari arsip lawan. Hampir semua angka pasukan, korban, dan arsenal periode ini berasal dari catatan VOC (disarikan Andaya), bukan dari Gowa sendiri; sisi Makassar atas banyak peristiwa kurang terdokumentasi dan harus dibaca dengan hati-hati.
- Figur yang diperebutkan maknanya. Dalam narasi nasional Indonesia, Hasanuddin adalah pahlawan perlawanan; dalam tradisi Bugis-Bone, kekuasaan Gowa yang ia wakili dikenang sebagai penindasan, dan Arung Palakka justru pahlawan pembebas. Kedua bacaan ini sama-sama hidup dan tidak bisa disatukan tanpa menghapus salah satunya.
Warisan

- Simbol perlawanan maritim Nusantara. Hasanuddin dikenang sebagai raja yang mempertaruhkan segalanya demi kedaulatan dan prinsip dagang bebas melawan monopoli asing — arketipe perlawanan pra-kolonial yang kelak diangkat menjadi ikon nasional. Ia ditetapkan Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.
- Titik balik sejarah Sulawesi Selatan. Kekalahannya menandai runtuhnya hegemoni Gowa dan naiknya Bone; monopoli rempah VOC di Nusantara timur terkunci, dan ribuan orang Makassar menyebar (diaspora) melintasi kepulauan sebagai pelaut serta tentara bayaran — mengubah peta politik kawasan selama berabad-abad.
- Nama yang hidup di ruang publik. Makamnya berada di kompleks makam raja-raja Gowa di Katangka (Bukit Tamalate, Kabupaten Gowa) dan diziarahi hingga kini [keandalan: tinggi — pemerintah daerah Gowa]. Namanya diabadikan pada Universitas Hasanuddin dan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar [keandalan: tinggi — pengetahuan umum terverifikasi], di antara banyak jalan dan institusi lain.
Pelajaran
Strategis.
- Tembok setinggi apa pun runtuh bila rakyat di belakangnya telah kaujadikan musuh — damaikan lawan dalam sebelum menghadapi lawan luar. Somba Opu adalah salah satu benteng terkuat di Nusantara, tetapi yang meruntuhkannya bukan meriam Eropa melainkan pasukan Bugis Bone yang membenci kekuasaan Gowa. Dendam yang tak didamaikan adalah pintu belakang yang selalu bisa dibuka lawan.
- Monopoli menciptakan musuh; keterbukaan menciptakan sekutu. Gowa besar karena membuka pelabuhannya bagi semua; VOC memerangi Gowa justru untuk menutup laut. Dalam persaingan apa pun, siapa yang memaksakan penguasaan tunggal akan memancing koalisi yang melawannya.
- Kemenangan hari ini bisa menanam kekalahan esok. Penaklukan Gowa atas Bone pada satu generasi terasa seperti kekuatan; satu generasi kemudian ia menjadi sumber kehancuran. Perhitungkan biaya jangka panjang dari setiap penaklukan yang tidak disertai rekonsiliasi.
Untuk medan tempur kehidupan.
- Prinsip yang kaupegang menentukan siapa lawanmu. Hasanuddin memilih melawan daripada menyerahkan urat nadi ekonominya. Kadang mempertahankan prinsip berarti menerima pertarungan yang secara kalkulasi kalah — dan sejarah menimbang pilihan itu bukan hanya dari menang-kalahnya, melainkan dari apa yang dipertahankan.
- Perlakukan orang yang pernah kaukalahkan dengan cermat. Lawan yang kau tundukkan tanpa kaudamaikan tidak lenyap; ia menunggu momen dan sekutu. Cara seseorang memperlakukan pihak yang kalah sering menentukan nasibnya sendiri bertahun-tahun kemudian.
- Nama baik kadang ditempa oleh musuh. Julukan yang paling melekat pada Hasanuddin justru datang dari pihak yang memeranginya. Reputasi dibangun oleh cara kita bertarung, bukan hanya oleh hasilnya — dan bahkan lawan bisa menjadi saksi kehormatan kita.
Sumber & bacaan lanjutan
- Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century (Nijhoff/KITLV, VKI 91, 1981) — salinan lengkap akses terbuka di Internet Archive · edisi akses terbuka Library of Congress (keduanya akses terbuka). Akademik — otoritas ilmiah utama untuk Perang Makassar dan sisi Gowa-Bone; angka armada, wabah, dan jatuhnya Somba Opu di situs ini bersandar padanya. Karya ini menjadi tulang punggung entri Perang Makassar — yang membacanya penuh-teks lewat salinan akses terbuka; di entri tokoh ini ia dirujuk lewat entri perang tersebut dan lewat catatan kaki Wikipedia, bukan dibuka ulang halaman demi halaman. Keandalan: tinggi.
- Hasanuddin of Gowa, Wikipedia (EN) — en.wikipedia.org/wiki/Hasanuddin_of_Gowa (akses terbuka). Tersier — nama lengkap & gelar anumerta, tanggal hidup 12 Jan 1631 – 12 Jun 1670, silsilah, kronologi pra-perang (blokade 1654–55, perjanjian 2 Feb 1656, tuntutan 27 Apr 1659, Panakkukang 1660, pemberontakan Bone 1660), pembatalan Bongaya, dan status Pahlawan Nasional 6 Nov 1973. Keandalan: sedang.
- Arung Palakka, Wikipedia (EN) — en.wikipedia.org/wiki/Arung_Palakka (akses terbuka). Tersier — pemberontakan Bone 1660, pelarian ke Batavia 1663, dan kembalinya bersama VOC pada 1666 sebagai kunci strategi Belanda. Keandalan: sedang.
- Hassan S. Khalilieh, Islamic Law of the Sea: Freedom of Navigation and Passage Rights in Islamic Thought (Cambridge University Press, 2019) — halaman buku di Cambridge Core (metadata & bab terbuka; teks penuh berbayar). Akademik — deklarasi laut-bebas Sultan Alauddin (kakek Hasanuddin) tahun 1615 kepada VOC; dipakai di sini HANYA untuk konteks doktrin Gowa, dengan penegasan ucapan itu bukan milik Hasanuddin. Keandalan: tinggi untuk atribusi kutipan.
- The Conquest of Makassar by the Dutch (1596–1800) (indonesia-dutchcolonialheritage.nl, seri KNIL) — ConquestMakassar.pdf (akses terbuka; berkas hidup diverifikasi, PDF). Sekunder bernarasi Belanda-sentris — ikhtisar penaklukan Makassar; berguna untuk kerangka kronologis, tetapi berbias kolonial. Keandalan: sedang.
- VOC Interaction with Makassar 1637–68 (repositori ilmiah Universiteit Leiden) — scholarlypublications.universiteitleiden.nl/item:3146117 (akses terbuka; berkas hidup diverifikasi — PDF tersedia untuk diunduh, teks tak terekstrak lewat pengambilan otomatis). Akademik — kajian hubungan VOC–Makassar menjelang perang; dicantumkan sebagai rujukan lanjutan, tidak dibaca penuh untuk entri ini. Keandalan: tinggi sebagai karya; belum dibaca langsung.
- Entri terkait di situs ini: Perang Makassar 1666–1669 — konteks perang, Perjanjian Bongaya, Arung Palakka, dan jatuhnya Somba Opu selengkapnya.
Catatan keandalan keseluruhan: TINGGI untuk kerangka hidup (lahir 12 Januari 1631 di Makassar; putra Sultan Malikussaid; naik takhta 1653 sebagai sultan ke-16; julukan “Ayam Jantan dari Timur”; memimpin Perang Makassar melawan VOC; menandatangani lalu membatalkan Perjanjian Bongaya 1667; Somba Opu jatuh Juni 1669; turun takhta demi putranya I Mappasomba; wafat 12 Juni 1670; Pahlawan Nasional 6 November 1973). Yang lebih lemah dan dilabeli di atas: nama ibunya dan rincian silsilah; tanggal pasti turun takhta (29 Juni 1669 versi sebagian sumber vs. beberapa hari sebelum jatuhnya benteng versi Andaya); serta atribusi kutipan laut-bebas 1615 yang milik kakeknya, Sultan Alauddin, BUKAN Hasanuddin.