← Semua sejarawan

  • Zaman Keemasan Abbasiyah (abad ke-9–10 M)
  • historiografi Islam (kronik anal ber-isnad)

Al-Tabari

Juga dikenal: Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari · Ibn Jarir ath-Thabari · Muhammad ibn Jarir al-Tabari

Sejarawan dan mufasir Persia dari Baghdad (±839–923 M / 224–310 H) yang lewat Tarikh al-Rusul wa'l-Muluk menyusun sejarah universal terpenting Islam klasik dengan merawat tiap riwayat lengkap sanadnya, tahun demi tahun.

Ilustrasi simbolik Al-Tabari: meja kerja & naskah zamannya.
Ilustrasi simbolik Al-Tabari: meja kerja & naskah zamannya · Ilustrasi: AI
Daftar isi

Lembar Data

Hidup±839–923 M / 224 atau 225 – 310 H
ZamanZaman Keemasan Abbasiyah (abad ke-9–10 M)
KebangsaanPersia (Tabaristan, Iran utara modern)
KawasanBaghdad & dunia Abbasiyah
Tradisihistoriografi Islam (kronik anal ber-isnad)
Bidanghistoriografi, tafsir Al-Qur'an, fikih & ushul fikih, hadis, sejarah universal
Keandalan sumberTinggi
Karya utamaTarikh al-Rusul wa'l-Muluk ("Sejarah Para Rasul dan Raja"), sejarah dunia dari penciptaan hingga 302 H / 915 M; Jami' al-bayan 'an ta'wil ay al-Qur'an (Tafsir ath-Thabari) — tafsir bil-ma'tsur monumental; Ikhtilaf al-Fuqaha ("Perbedaan Para Ahli Fikih"); Tahdhib al-Athar (kompilasi hadis, tidak selesai)

Apa arti label-label ini? →

Ringkasan singkat

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari (Amul, Tabaristan, 224 atau 225 H / sekitar 839 M — Baghdad, 310 H / 923 M) adalah sejarawan, mufasir, dan ahli fikih Persia yang menjadi salah satu sarjana paling produktif di masa keemasan Baghdad. Karya sejarahnya, Tarikh al-Rusul wa’l-Muluk (“Sejarah Para Rasul dan Raja”), disepakati banyak peneliti sebagai sejarah universal terpenting yang lahir dari dunia Islam klasik: sebuah kronik yang mencatat dunia dari penciptaan hingga zaman penulisnya sendiri, tahun demi tahun, dengan tiap kabar dibawakan lengkap dengan rantai perawinya (isnad).

Bagi situs sejarah peperangan, ia figur kunci karena alasan yang sangat konkret: Tarikh-nya adalah sumber naratif paling rinci dan paling awal yang bertahan untuk Perang Riddah dan penaklukan-penaklukan besar abad ke-7 — termasuk Pertempuran Yarmuk (636 M), al-Qadisiyyah, dan jatuhnya Sasaniyah. Namun justru di situ letak paradoksnya: banyak narasi penaklukan itu sampai kepada kita melalui Tabari dari satu perawi yang keandalannya sengit diperdebatkan, sehingga cara Tabari bekerja — merawat riwayat tanpa menyatukannya — sekaligus menjadi kekuatan dan keterbatasannya.

Kehidupan & zamannya

Tabari lahir di Amul, kota di provinsi Tabaristan di pesisir selatan Laut Kaspia (kini Iran utara) — dari sanalah nisbah “ath-Thabari”. Ia berasal dari keluarga berkecukupan; menurut sumber-sumber biografis, ayahnya mengirimkan uang selama Tabari merantau menuntut ilmu, dan pendapatan dari tanah warisan keluarga di Tabaristan membuatnya mandiri secara finansial sepanjang hidup. Kemandirian ini penting: ia berulang kali menolak jabatan resmi (termasuk tawaran menjadi hakim dan kepala lembaga sedekah) serta hadiah dari para pembesar, sesuatu yang menjaga jarak antara penanya dan para penguasa yang ia tulis.

Ia dikenang sebagai anak yang luar biasa: menurut riwayat biografis populer, ia hafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun, memimpin salat pada usia delapan, dan mulai menulis hadis pada usia sembilan.

Sejak muda ia merantau jauh untuk belajar — pola khas ulama zaman itu: ke Rayy (dekat Teheran modern), lalu Baghdad, Basra, dan Kufah di Irak, kemudian ke Mesir (Fustat) dan Syam, sebelum akhirnya menetap di Baghdad. Salah satu tujuan awal ke Baghdad, menurut Rosenthal, adalah belajar langsung kepada Ahmad bin Hanbal — tetapi sang imam wafat (241 H) sebelum Tabari tiba, sebuah kebetulan yang kelak terasa ironis mengingat konflik akhir hayatnya dengan pengikut Ibn Hanbal.

Zamannya adalah puncak intelektual Abbasiyah yang mulai diselingi kegoncangan politik: mihna (inkuisisi teologis) sudah reda, Baghdad tetap pusat ilmu dunia Islam, tetapi kekhalifahan makin bergantung pada tentara dan gubernur yang sukar dikendalikan. Di kota itulah Tabari menghabiskan puluhan tahun sebagai guru dan penulis yang, menurut anekdot masyhur, mengarang dalam jumlah halaman yang nyaris tak masuk akal setiap harinya.

Jalan menjadi sejarawan

Tabari tidak memulai sebagai “sejarawan” dalam arti sempit. Ia lebih dulu matang sebagai ahli qiraat, faqih, dan mufasir; sejarah datang sebagai muara dari penguasaannya atas hadis dan disiplin sanad. Dari lingkaran muridnya sempat tumbuh mazhab fikih tersendiri — dinamai mazhab Jariri (dari nama ayahnya, Jarir) — meski aliran ini padam beberapa generasi setelah wafatnya karena tak punya basis pelindung dan pengajar yang cukup.

Metode kerjanya diwarisi langsung dari ilmu hadis: mengumpulkan sebanyak mungkin riwayat tentang sebuah peristiwa, masing-masing dengan rantai penuturnya, lalu menatanya. Ketika ia mengalihkan disiplin ini dari kehidupan Nabi ke seluruh sejarah dunia — dari kisah para nabi dan raja-raja Persia kuno hingga perang saudara Abbasiyah pada tahun-tahun ketika ia masih hidup — lahirlah sebuah kronik raksasa yang menjadi karya hidupnya.

Karya-karya utama

  • Tarikh al-Rusul wa’l-Muluk — sejarah universal dari penciptaan dunia hingga peristiwa tahun 302 H / 915 M. Setelah masa Nabi, susunannya beralih menjadi anal (tahun demi tahun setelah Hijrah): tiap tahun dikumpulkan laporannya, kerap dalam beberapa versi bersanad yang berbeda-beda. Terjemahan Inggris lengkapnya terbit dalam 39 jilid plus satu jilid indeks oleh SUNY Press (1985–2007) di bawah editor umum Ehsan Yarshater dari Universitas Columbia — proyek yang melibatkan puluhan penerjemah. Jilid-jilid pertengahan (sekitar Jilid 11–13) memuat Perang Riddah dan penaklukan Irak, Syam, Persia, dan Mesir; Jilid 12, misalnya, khusus menggarap al-Qadisiyyah serta penaklukan Suriah dan Palestina tahun 635–637 M / 14–15 H, kurun yang mencakup Yarmuk.
  • Jami’ al-bayan ‘an ta’wil ay al-Qur’an, lebih dikenal sebagai Tafsir ath-Thabari — tafsir bil-ma’tsur (berbasis riwayat) yang oleh banyak ulama, termasuk as-Suyuti, dinilai sebagai tafsir paling berharga dan menjadi rujukan hampir semua penafsir sesudahnya. Karya ini menyimpan begitu banyak riwayat, perbedaan bacaan, catatan bahasa, dan pendapat hukum sehingga menjadi arsip awal sekaligus tafsir.
  • Ikhtilaf al-Fuqaha (“Perbedaan Para Ahli Fikih”) — kitab perbandingan pandangan mazhab. Karya inilah yang, karena tak memasukkan Ahmad bin Hanbal ke dalam jajaran para faqih yang dibahas, memicu permusuhan panjang dengan kalangan Hanbali Baghdad.
  • Tahdhib al-Athar — proyek kompilasi hadis besar yang ditinggalkannya belum selesai.

Metode & sumbangan historiografis

Sumbangan terbesar Tabari bukanlah tafsir atas sejarah, melainkan cara ia merawat sejarah. Alih-alih melebur laporan-laporan yang berbeda menjadi satu narasi mulus, ia menyajikannya berdampingan: “berkata si Fulan, dari si Fulan, dari si Fulan…”, lalu — bila ada versi lain — “dan menurut riwayat yang lain…”. Ia sering menahan diri memberi putusan mana yang benar. Dalam mukadimah Tarikh, ia menegaskan bahwa tugasnya adalah meneruskan apa yang sampai kepadanya; bila pembaca menjumpai kabar yang ganjil atau tak masuk akal, hendaknya tahu bahwa itu bukan dari dirinya, melainkan dari para penutur yang meneruskannya kepadanya.

Sikap ini punya dua wajah. Sebagai sejarah naratif ia bisa terasa terfragmentasi — peristiwa yang sama muncul di beberapa tempat dengan versi berbeda, dan visi penulisnya sengaja disembunyikan di balik tumpukan sanad. Tetapi sebagai arsip, nilainya tak ternilai: Tabari mengawetkan potongan-potongan karya sejarawan generasi sebelumnya — seperti Ibn Ishaq, al-Waqidi, Abu Mikhnaf, al-Mada’ini, dan Sayf bin Umar — yang aslinya sebagian besar telah hilang. Karena setiap kabar dibawakan bersama rantai perawinya, sejarawan sesudahnya (hingga peneliti modern) bisa menimbang keandalan tiap jalur secara terpisah. Dengan kata lain, Tabari mewariskan bahan mentah yang terlabel rapi sehingga kritik sumber tetap mungkin dilakukan berabad-abad kemudian.

Menarik membandingkannya dengan sejarawan Muslim lain di situs ini, Ibn Khaldun: jika Tabari adalah pengumpul dan penjaga riwayat yang menahan tafsir, Ibn Khaldun — empat abad kemudian — justru mengambil timbunan riwayat semacam itu dan bertanya mana yang masuk akal. Keduanya melengkapi: yang satu merawat sumber, yang lain menguji sumber.

Kritik & keterbatasan

  • Juxtaposisi tanpa penyaringan. Kekuatan Tabari sebagai arsip adalah kelemahannya sebagai narator: dengan membiarkan banyak versi berdiri berdampingan, ia mewariskan repetisi, kontradiksi, dan garis peristiwa yang sukar diikuti sebagai satu kisah utuh.

  • Ketergantungan pada Sayf bin Umar untuk penaklukan. Sebagian besar bahan Tabari tentang Perang Riddah dan penaklukan awal berasal dari Sayf bin Umar, perawi Kufah abad ke-8 yang keandalannya diperdebatkan keras — banyak ahli hadis klasik menilainya lemah, dan sejumlah sejarawan modern menuduhnya membesar-besarkan bahkan merekayasa sebagian narasi.

    Catatan: Karena beberapa detail dramatis pertempuran seperti al-Qadisiyyah dan Yarmuk hanya sampai melalui jalur Sayf, angka dan adegannya harus dibaca dengan kehati-hatian yang sama seperti yang diajarkan Tabari sendiri terhadap para perawi — sesuatu yang sudah tercermin di entri Pertempuran Yarmuk.

  • Bias dan celah sumber. Ia paling kaya untuk sejarah Irak dan wilayah jantung Abbasiyah, dan lebih bergantung pada kompilasi untuk kawasan yang jauh dari pengalaman dan jaringannya.

  • Tuduhan bermuatan polemik. Lawan-lawannya dari kalangan Hanbali menuduhnya bersimpati kepada Syiah (Rafidi) dan kepada teologi Mu’tazilah (I’tizal).

    Catatan: Sebagian besar peneliti membaca tuduhan ini sebagai senjata polemik dalam pertikaian mazhab, bukan deskripsi jujur atas keyakinan Tabari yang arus-utama Sunni; kebenarannya diperdebatkan.

Warisan

Ilustrasi simbol warisan keilmuan Al-Tabari.
Ilustrasi simbol warisan keilmuan Al-Tabari · Ilustrasi: AI

Konflik dengan kalangan Hanbali membayangi akhir hayatnya. Karena dalam Ikhtilaf al-Fuqaha ia tak mengakui Ibn Hanbal sebagai faqih penuh (menilainya seorang muhaddits, bukan ahli hukum mandiri), para pengikut Hanbali di Baghdad memusuhinya keras — sumber-sumber menyebut rumahnya dilempari, sampai otoritas Abbasiyah turun tangan. Ketika ia wafat di Baghdad pada 310 H / 923 M, ia dimakamkan secara diam-diam, sebagian riwayat menyebut pada malam hari, karena kekhawatiran akan kerusuhan massa.

Namun karyanya jauh melampaui permusuhan itu. Tarikh-nya menjadi tulang punggung historiografi Islam: pada masa Samaniyah (sekitar 963 M) wazir Bal’ami mengalihbahasakan dan meringkasnya ke dalam bahasa Persia, versi yang lalu membentuk tradisi penulisan sejarah Persia; sejarawan besar seperti Ibn al-Athir membangun kronik universalnya, al-Kamil fi at-Tarikh, dengan bertumpu pada Tabari untuk abad-abad awal. Tafsir-nya tetap menjadi rujukan primer para penafsir hingga hari ini. Dan ketika SUNY Press menuntaskan terjemahan lengkap 39 jilidnya pada 2007 — dibuka oleh biografi setebal 130 halaman karya Franz Rosenthal dari Yale — dunia berbahasa Inggris akhirnya bisa membaca, tahun demi tahun, arsip yang telah menjaga suara-suara abad ke-7 tetap terdengar.

Pelajaran

  • Kejujuran mencatat sumber adalah bentuk integritas yang paling tahan lama. Catat sumbermu dengan jujur, termasuk yang kau ragukan; keterbukaan itulah yang membuat sebuah karya masih dipercaya seribu tahun kemudian. Tabari tidak menyembunyikan riwayat yang ia anggap janggal; ia menaruhnya di meja bersama sanadnya, dan membiarkan pembaca menimbang. Dalam dunia yang menggoda kita memoles satu versi yang rapi, keberanian menampilkan versi-versi yang berselisih justru yang membangun kepercayaan.
  • Kemandirian menjaga kejernihan. Dengan hidup dari warisan dan menolak jabatan serta hadiah penguasa, Tabari membeli sesuatu yang lebih mahal dari uang: kebebasan untuk tidak berutang budi kepada pihak yang ia tulis. Siapa yang menuliskan sejarah sebaiknya menjaga jarak dari mereka yang bisa membelinya.
  • Arsip yang terawat memungkinkan koreksi. Karena Tabari mengawetkan bahan mentah lengkap dengan asalnya, generasi sesudahnya — dari Ibn Khaldun sampai sejarawan hari ini — bisa memangkas yang berlebihan dan mengoreksi yang keliru. Pekerjaan mengumpulkan dengan tekun, meski tak menghakimi, menyiapkan lahan bagi orang lain untuk menghakimi dengan adil.
  • Kerja besar menang atas kegaduhan zaman. Rumahnya dilempari dan namanya diserang di akhir hayat; tetapi yang tersisa hari ini bukan pertikaian mazhab di jalanan Baghdad, melainkan kronik yang ia rawat dengan sabar. Karya yang dikerjakan sungguh-sungguh akan hidup lebih lama dari permusuhan yang mengelilinginya.
Dengarkan pelajaran dari entri ini · Narasi & video: AI

Sumber & bacaan lanjutan

Tema

Terkait di atlas ini